Kamis, 04 Agustus 2011

PENGERTIAN RATTIL ALQURAN DAN SHALAT

MMM1) Rattil Satu Persiapan Iman.





Istilah Rattil, sama dengan ‘qira-ah”, ialah studi yang belajar yaitu membentuk pandangan menurut yang dibaca.





Jadi “Rattil” atau “qira-atul qur’an” ialah studi yaitu belajar yakni membentuk pandangan dengan al-quran ms rasul. Dilakukan sendiri dengan tekun dan penuh konsentrasi.





Dalam hubungan ini perlu diingatkan bahwa, pengajian pengajian umum, sekolah, ceramah-ceramah, seminar-seminar, direksi, kursus, dsb. Yaitu mimbar dimana berkumpul sekelompok pendengar dan seorang guru/penceramah/protokol yang menerangkan sesuatu belumlah bisa dikatakan rattil atau qira-ah, yang demikian lebih tepat disebut Persiapan Rattil oleh karena yang demikian ialah sekedar pembentukan dasar-dasar pengertian dan kunci-kunci persoalan yang merupakan kesulitan-kesulitan didalam rattil.





Dalam hubungan ini maka rattil ialah mengulang kembali sendirian dirumah untuk menguasainya. Kadangkala juga disebut mengulang.

Singkatnya rattil ialah pengembalian pandangan berikut kelincahan matan atau bacaannya kepada al-Quran ms Rasul.





Mattan al-Quran ms Rasul sudah mencapai demikian mantap, oleh karena kesadaran Iman itu turun naik (Hadits : al-Quran yaziid wa yanquush), maka rattil ini adalah mutlak untuk membentuk pandangan dengan al-Quran ms Rasul.





Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa rattil al-Quran ms Rasul adalah permulaan taubat.





Bila rattil sudah menghasilkan satu pandangan, sekurang-kurangnya surat al-Fatihah sebagai satu pandangan umum, maka ditingkatkanlah ke sholat satu pembinaan iman.





Dari itu maka rattil dapat dikatakan persiapan Iman atau persiapan shalat.





2)Shalat Satu Pembinaan Iman





Istilah shalat ialah kaifiyat atau tehnik pembinaan diri menjadi mukmin. Yaitu penanaman hasil rattil yakni pandangan al-Qur’an ms Rasul menjadi sikap hidup yang menghujam dalam hati.





Dengan lain perkataan, shalat ialah memahkotakan hati dengan al-Qur’an ms Rasul.





Surat an-Nisa ayat 102, hadis dan surat Bani Israil ayat 78-79 menjelaskan demikian :

An-Nisa 102 :









102. “Sehingga apabila kalian sudah melakukan shalat maka hidup sadarlah kalian dengan ajaran Allah ( al-Qur’an ms Rasul ) baik dalam keadaan tegak berdiri maupun dalam keadaan duduk bahkan dalam keadaan berbaring. Maka dikala sudah berada dalam keadaan tenang maka lakukanlah shalat, sesungguhnya shalat ini adalah satu pembukuan ( pembinaan ) diri menjadi mukmin dalam waktu-waktu yang telah ditentukan “.





Hadis :





“Shalat adalah satu tehnik peningkatan ( pembinaan ) manusia menjadi mukmin”.





Surat Bani Israil 78-79 :











78. “Lakukanlah shalat diwaktu tergelincir matahari ( shalat dhohor dan ashar ) hingga waktu terbenam matahari ( shalat magrib dan isya ) dan shalat shubuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu adalah satu pembinaan kekuatan ( iman ) tiada tara”.











79. “Dan disebagian waktu malam maka lakukanlah shalat tahajjud ( shalatul lail ) dengan mana sebagai satu penguat ( iman ) bagi kalian. Semoga pembimbing kalian ( dengan shalat tahajud itu ) akan membangkitkan kalian menjadi yang bermahkota al-Qur’an didalam dada”.





Singkatnya shalat ialah kelanjutan yaitu peningkatan rattil satu persiapan iman menjadi pembinaan iman. Shalat sangat tergantung kepada hasil rattil.





Tanpa hasil rattil, dari satu sudut, maka shalat menjadi tidak berfungsi tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali hanya satu demontrasi kaifiat belaka, seperti ditegas oleh surat al- Ma’un ayat 4-6 demikian :







Fa wailul lil mushalliin.



4. “Maka itulah dia hasil jahannam dari mereka yang shalat-shalatan”.







Alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun.



5. “Yaitu mereka yang shalatnya tidak karuan”.









Aladziinahum yuraa-uun.



6. “Lahirnya shalat tetapi isinya dzulumat ms syayathin”.





Dari itu, agar rattil berhasil hingga memenuhi syarat bagi shalat dalam mencapai tujuannya, maka rattil ini harus memenuhi satu prosedur dan titik tolaknya.





3) Prosedur dan titik tolak rattil





Dimaksud dengan prosedur, dalam hal ini ialah rattil al-Qur’an ms Rasul, ialah jalannya rattil menurut satu tata tertib dan satu titik tolak tertentu.





Dan istilah “titik tolak” ialah titik pijak dan makna rattil itu dimulai dan kemana mau dituju serta apa yang mau dicapai.





Pedoman dari “prosedur dan titik tolak rattil” adalah al-Qur’an ms Rasul itu sendiri, yaitu pada surat Muzzammil ayat 1-19:







Yaa ayyuhal muzzammil



1. “Wahai yang berlaku dzulumat ms syayathin”.







Qumil laila illa qaliilaa.







2. “Bangunlah diwaktu malam kecuali sedikit saja”.





Nishfahuu awin qush minhu qaliilaa.



3. “Setengahnya atau kurangi sedikit saja”.







Au zid ‘alaihi wa rattilil qur-aana tartiilaa.



4. “Atau lebihkan atasnya-2), maka rattil ( studilah) al-Qur’an ms Rasul ini semantap-mantapnya”.





Innaa sa nulqii ‘alaika qaulan tsaqiilaa.



5. “Sesungguhnya Kami, dengan rattil al-Quran ms Rasul ini, akan menancapkan menjadi pandangan hidup kalian satu kalam yang berbobot .....”-3)





Inna naasyi-atal laili hiya asyaddu wathaw wa aqwamu qiilaa.



6. “ Sesungguhnya kesegaran malam itu adalah semudah-mudah pemantapan dan setangguh-tangguhnya penanggapan”.





Inna laka fin nahaari sabhan thawiilaa.



7. “Sesungguhnya bagi kalian diwaktu siang itu ialah kesibukan yang tiada habis-habisnya”.







Wadz kurisma rabbika wa tabattal ilaihi tabtiilaa.



8. “Maka, dengan rattil al-Qur’an ms Rasul maka sadarlah diri : “Semoga kalian hidup sadar dengan Ilmu ( ajaran) pembimbing kalian lepaskan ikatan dengan selainnya selesai lepasnya”.





Rabbul masyriqi wal maghribi laa ilaahaillaa huwa fat tahidz-hu wakiilaa.





9. “(Dia), atas pilihan dzulumat ms syayathin pembimbing blok timur dan blok barat. Maka ada pembina kehidupan apapun kecuali Iman dengan satu ajaran ms Rasul-Nya, maka senangilah dia menjadi pembimbing kehidupan tiada tara”.







Wash bir ‘alaa maa yaquuluuna wah jurhum hajran jamiilaa.



10.“Dan teguh bertahanlah kalian terhadap apa yang mereka, atas pilihan dzulumat ms syayathin melontarkan berbagai ocehan dan tinggalkanlah mereka dengan sikap seindah-indahnya”.







Wa dzarnii wal mukadzdzibiina ulin na’mati wa mahhilhum qaliilaa.



11. “Dan biarkanlah menjadi urusan-Ku, yaitu pelacur-pelacur ilmu yang memiliki serba kemewahan, dan biarkanlah mereka menghabiskan waktunya sedikit lagi”.







Inna ladainaa ankaalaw wa jahiimaa.







12. “Sungguh menurut Kami, pilihan dzulumat ms sy itu, adalah penghancur kehidupan yaitu kehidupan jahannam tiada tara”.







Wa tha’aaman dzaa ghushshatiw wa’adzaaban aliimaa.



13. “Yaitu ibarat sejenis makanan menyumbat kerongkong, sehingga merupakan bencana hidup luar biasa”.







Yauma tarjuful ardhu wal jibaalu wakaanatil jibaalu katsiibam mahiilaa.





14. “Jalannya sejarah, dengan al-Qur’an ms Rasul ini, adalah ibarat bumi dan gunung yang guncang segoncang-goncangnya sehingga gunung demi gunung menjadi hancur berterbangan porak poranda”.







Inaa arsalnaa ilaikum rasuulan syaahidan ‘alaikum ka maa arsalnaa illaa fir’auna rasuulaa.





15. “Sebenarnya Kami, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul, mengubah dari kalian seorang Rasul yang memberikan satu pembuktian atas hidup kalian, sebagaimana mahalnya Kami, dengan Taurat ms Musa, mengutus kepada Fir’un seorang Rasul juga”.







Fa ‘ashaa fir’aunur rasuula fa akhadz-naahu akhdzaw wabiilaa.



16. “Maka Fir’un mengingkari Taurat ms Musa, akhirnya Fir’un, atas pilihan dzulumat ms syayathin Kami hancurkan menjadi sehancur-hancurnya”.







Fa kaifa tattaquuna in kafartum yaumay yaj’alul wildaana syiibaa.







17. “Maka bagaimanakah kalian, dengan Rattil al-Qur’an ms rasul ini, bisa mencapai hidup patuh (iman) jikalaulah kalian masih saja bersikap negatif terhadap jalannya sejarah dengan al-Qur’an ms Rasul ini yang akan membikin semua produk dzulumat ms syayathin itu menjadi bagaikan bayi beruban kepala”.







Assamaa-u munfathirum bihii kaana wa’duhuu maf’uulaa.



18. Seperti halnya semesta angkasa, pada Sa’ah Kubra, hancur berkeping-keping, begitulah janji-Nya dengan al-Qur’an ms Rasul ini terhadap dzulumat ms syayathin pasti terlaksana”.







Inna hadzkiratuw fa man syaa-at takhadza ilaa rabbihii sabiilaa.







19. “Sesungguhnya al-Qur’an ms Rasul ini adalah satu pembina kehidupan sadar secara ilmiah, maka, siapa yang mau, dipersilakan menata kehidupan menurut ajaran pembimbingnya.





Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan terperinci tentang prosedur dan titik tolak rattil ini kita harus mengingat kembali sket segitiga ABC, yang diperinci dengan AB1C dan AB2C dan AB2C, dalam segitiga sama sisi ABF yang diperinci menjadi BDE, BDC, dan CDF.





Maka sudut Muzzamil, yaitu “dhallan fahada”, ialah sudut D-B2, yaitu sudut D yang mau mencapai B2 ( sudut mukmin) yang bertahap dua, yaitu menjadi D-B3 sebagai garis rattil satu persiapan iman, dan B3-B2, sebagai garis shalat satu pembinaan iman.





Sehingga sudut AB2C, yaitu penurunan dari AB1C menurut pola sudut iman yang sebenarnya.





Surat Muzzamil ayat 2-4 adalah waktu dan penggunaannya dalam garis rattil. Ayat 6 adalah alasan dan penjelasannya, mengapa harus memakai waktu malam.





Ayat 5 dan 6 menggambarkan tujuan yang mau dicapai oleh rattil yaitu persiapan shalat untuk mencapai B3.





Jikalau sudut D-B2 adalah sudut positif rattil maka ayat 7 “sabhan thawila”. ialah sudut D-C yaitu garis siang yang bersudut negatif.





Yaitu ayat 9 “rabbul masriqi wa rabbul maghribi...” dalam pasangan positif dengan ‘laaha illa huwa fattakhidzhu wakiila”.





Ayat 10 dan 11 adalah tuntutan ketabahan bagi yang rattil dalam pertautannya dengan D-C (garis siang) mengenai ocehan-ocehan mereka yang positif dengan dzulumat ms syayathin dan bersikap negatif terhadap dakwah al-Qur’an ms Rasul.





Sambil menyerahkan urusannya itu sepenuhnya menjadi urusan Allah, pencipta dan pembimbing Nur dan dzulumat, buat sementara.





Ayat 12-14 adalah pandangan dan penilaian al-Qur’an ms Rasul terhadap nasib dzulumat ms syayathin selanjutnya sebagai tantangan bagi sunnah Muhammad qurun I, yang akan berulang menjadi tantangan bagi sunnah Muhammad qurun II kelak.





Ayat 15 dan 16 adalah percontohan sunnah Muhammad dan tantangannya, sebagai perulangan dari Taurat ms Musa yang ditantang oleh Fir’un dan atas kekufurannya terhadap ajaran Allah ms Rasul akhirnya Fir’un menjadi hancur musnah.





Ayat 17 memperingatkan yang rattil bahwa mencapai muttaqin yaitu mukmin itu adalah proses penjungkiran-balikan yang bersifat historis yaitu ayat 18, seperti penjungkir-balikan semesta angkasa kehidupan ini kelak, pada sa’ah kubra, dalam rangka pembangunan “yaumil akhir”.





Akhirnya ayat 19 mencamkan para pelaku rattil bahwa al-Quran ms Rasul ini adalah pembina kehidupan sadar secara ilmiah. Maka, siapa yang mau, dipersilakan menata kehidupan menurut ajaran pembimbingnya.





Adapun Surat Muzzamil ayat 20 adalah untuk meningkatkan hasil rattil dengan melakukan shalat untuk mencapai iman demikian :







Inna rabbaka ya’lamu annaka taquumu adnaa min tsulutsayil laili wa nishfahuu wa tsulutsahuu wa thaa-ifatum minal ladziina ma’aka wallahu yuqaddirul laila wan nahaara ‘alima al lan tuhshuuhu fataaba ‘alaikum faq ra-uu maa tayassara minal qur-aani ‘alima an sa yakuunu minkum mardhaa wa aakharuuna yadhribuuna fil ardhi yabtaghuuna min fadhlillaahi wa aakharuuna yuqaatiluuna fii sabiilillaahi faq ra-uu ma tayassara minghu wa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata wa aqridhullaha qardhan hasanaw wa maa tuqaddimuu li anfusikum min khairin tajiduuhu ‘indallaahi huwa khairaw wa a’zhama ajraw wa taghfirullaaha innallaaha ghafuurur rahiim.







20. “Sebenarnya pembimbing kalianlah yang meng-ilmui-nya ( al-quran ms rasul-Nya) sehingga kalian menjadi tegak berdiri (dimalam hari melakukan shalat) hampir dua pertiga malam atau setengahnya atau sepertiganya malam atau setengahnya atau sepertiganya dan segolongan orang yang mengikuti kalian yaitu Allah, dengan al-Quran ms Rasul-Nya memberikan pasangan rancangan hidup, Nur Rasul dan dzulumat ms syayathin, bagaikan siang dan malam dalam satu peredaran. Dia telah mengilmui al-Quran ms Rasul-Nya, dengan harapan sangat agar kalian tidak menyeleweng dan atau melacurkannya. Akhirnya Dia, dengan Rattil satu persiapan iman dan shalat satu pembinaan iman, mengharap satu perubahan revolusioner atas hidup kalian. Maka pelajarilah dalam arti membentuk menjadi pandangan seberapa yang kalian sudah menguasai dari al-Quran ms Rasul ini. Dia mengilmui al-Quran ms Rasul-Nya dengan harapan, melalui rattil satu persiapan iman dan shalat satu pembinaan iman, dapat membikin sebagian kalian menjadi orang yang maunya padu dengan maunya Allah dengan al-Quran ms Rasul-Nya. Dan sebagian lagi menjadi yang bergerak dibidang penataan hidup dipermukaan bumi ini guna mencapai menurut nilai-nilai yang telah ditentukan oleh Allah ms Rasul-Nya. Dan yang terakhir menjadi yang bergerak dibidang pertahanan-keamanan untuk mempertahankan tatanan kehidupan dengan ajaran Allah ms Rasul-Nya.

Akhirnya studilah dalam arti membentuk menjadi pandangan seberapa saja yang kalian sudah menguasainya. Dalam arti lakukanlah shalat satu pembinaan diri menjadi mukmin, selanjutnya lakukanlah zakat satu pembinaan perekonomian. Akhir sekali, lempangkanlah hidup kalian dengan ajaran Allah ms Rasul ini setahap demi setahap hingga mencapai kehidupan ihsan. Dan tidak adalah yang menjadi tujuan pribadi kalian kecuali satu model kehidupan indah yang kalian akan menemuinya menurut ajaran Allah. Dia, dengan al-Quran ms Rasul ini, adalah pembina kehidupan maha indah lagi pemberi imbalan kehidupan tiada tara. Dan akhir kalam, tuntutlah satu perubahan hidup revolusioner menurut ajaran Allah. Sesungguhnya Allah, dengan al-Quran ms Rasul-Nya, adalah pembina kehidupan maha revolusioner lagi pemberi kepastian hidup tiada tanding”.





Demikianlah prosedur dan titik tolak rattil persiapan iman dan shalat satu pembinaan iman.





Dengan lain perkataan, prosedur dan titik tolak rattil dan shalat ini dapat juga dikatakan disiplin rattil dan shalat yang harus mendapat perhatian serius kalau mau rattil dan shalat itu benar-benar mencapai tujuannya. Rattil dan shalat yang tidak berpedoman kepada surat Muzzamil ini adalah membuang-buang waktu malah merusak diri.





Akhirnya Surat Muzzamil sebagi prosedur dan titik tolak rattil dan shalat, kita ringkaskan dengan surat muddassir ayat 1-8, demikian :







Yaa ayyuhal muddatstsir



1.“Wahai yang kesasar dzulumat ms syayathin”







Qum fa andzir







2.“Bangkit, maka mawas dirilah!”







Wa rabbaka fa kabbir.







3. “Yaitu ajaran pembimbing kalian ms Rasul-Nya maka tancapkanlah!”.







Wa tsiyaabaka fa thahhir.



4. “Yakni diri pribadi kalian yang bertanggapan dzulumat ms syayathin, maka bersihkanlah!”.







War rujza fah jur



5. “Dan kekotoran hidup dzulumat ms syayathin, maka singkirkanlah!”







Wa laa tamnun tastaktsir



6. “Dan janganlah melamun hasil tanpa kerja keras!”.







Wa li rabbika fash bir



7. “Dan menurut ajaran pembimbing kalian ( al-Qur’an ms Rasul-Nya), maka teguh bertahanlah!”.







Fa idzaa nuqira fin naaquur.



8. “Hingga dengan bagaikan tarikan nafas yang akan menghembus dan membahanakan suara dalam terompet”.





Surat Muddatstsir ayat 8 mengungkapkan rattil dan shalat, Persiapan dan Pembinaan Iman, ialah penancapan ilmu atau al-Quran ms Rasul kedalam kesadaran hidup yaitu satu input ( satu pemasukan) hingga menjadi ‘agama biqalbi’ adalah bagaikan ‘tarikan nafas’ yang dimulai dari sudut E1, hingga mencapai satu kulminasi (puncaknya) tertentu B2, ialah sudut iman sebenarnya, yang menghembuskan nafas ‘iqrarun bil lasaani’ dan ‘amalun bil arkani’ al-Quran ms Rasul, yaitu sudut AB2C dari AB1C menurut ABC.





Lama masa tempuh Garis Iman ini, Sami’na da Atha’na dilihat dari sudut sistematik Nuzul, dimulai dari masa suarat al-‘alaq ayat 1-5 hingga dengan Mi’raj kira-kira tahun 520 M, ialah 10 tahun dari 0 – hingga B3, masa Shalat Pembinaan Iman, hingga B2, yakni hijrah, kira-kira tahun 623 M, menjadi 3 tahun.





Dan Garis Atha’na, yakni B2-C adalah melalui masa 10 tahun sampai dengan mencapai “al yauma ya-isal ladziina kafaruu diinikum fa laa takhsyauhum wakh syauni al yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa radhiitu lakumul islaama diinan” ( S. Maidah ayat 3).





Jadi masa tempuh Sami’na wa ‘atha’na menjadi 23 tahun.

Fungsi ( kedudukan dan tugas) Sami’na B-D2, adalah penurunan dalam arti pemantapan AB1C menurut pola ABC menjadi AB2C.





Dari itu maka masa tempuh D-B2 adalah senilai dan seharga dengan B1-B2 dan B-B2. Jadi B2-C adalah juga turunan yang senilai dan seharga dengan B1-C menurut model B-C dari A-B1 menurut model A-B menjadi A-B2.





Dengan demikian maka terjemahan “hablun minallah” menjadi “tali perikatan dengan Allah yaitu ibadah dan “hablun minna nasi” menjadi “tali perikatan sesama manusia ialah muamalah adalah tidak relevan sehingga menjadi non ilmiah.





Dan oleh karena yang demikian adalah termasuk ensiklopedia pasti alam maka harus diterjemahkan menjadi segitiga sama sisi ABC dalam segitiga sama sisi AEF.





“Diukur dengan ukuran kilometer (km), perhari = 40.000 km pada garis khatulistiwa, maka Garis Iman, Sami’na wa ‘atha’na, yang bernilai dan berharga 23 tahun menjadi :





23 x 354 ( hari ) x ( minimal 1/3 malam dari jam 19.00 – 04.00 = 3 jam/ 1/8 hari = 5000 km) = menjadi 40.071.000 km. Dari itu maka hasil studi al-Quran ms Rasul adalah hasil dari sistem pendidikan maha indah dibanding dengan sistem pendidikan lain-lainnya yang hanya mampu mencapai puncak Naturalisme dan Idealisme, yaitu dzulumat ms syayathin.





Demikianlah Prosedur dan Titik Tolak Rattil atau Disiplin Rattil yang merupakan satu aspek yang paling penting dalam persoalan pokok-pokok mencapai iman atau strategi dan taktik iman.





Dan aspek lain lagi yang juga tidak kalah pentingnya adalah persoalan subyek study.

BAB ll : POKOK - POKOK MENCAPAI IMAN

Dimaksud dengan pokok-pokok mencapai iman ialah keterangan-keterangan yang sangat diperlukan dalam usaha mencapai iman ( pandangan dan sikap hidup ). Keterangan-keterangan tersebut kita bagi menjadi sebagai berikut.





1) Garis Iman





Istilah garis, menurut ilmu hukum ialah jumlah titik-titik yang sambung menyambung hingga membentuk garis dari A sampai Z.





Garis iman ialah Sebagai sebuah perlambang titik-titik menjadi tindakan demi tindakan yang terus menerus dan sambung menyambung dari satu permulaan hingga akhirnya mencapai Iman.





Keterangan-keterangan atau teori yang membentangkan / menguraikan garis iman bisa juga dikatakan strategi dan taktik mencapai iman, ( secara sederhana persamaannya adalah GARIS IMAN = STRATEGI DAN TAKTIK IMAN ) .



Strategi = siasat = tahapan umum = priode dalam mencapai Iman.

Taktik = tata cara = langkah - langkah tekhnis dalam rangka mencapai strategi = prosedur dalam mencapai Iman. Apapun taktik / prosedur yg ditempuh manusia dalam pandangan dan sikap hidupnya ( IMAN ) secara garis besar tercakup pada pilihan kategori Strategi iman haq dan atau iman bathil sbb: seperti ditegaskan oleh surat ali imran ayat 54 demikian :










Wa makaruu wa makarallaahu wallaahu khairul maakiriin.



54. “Mereka, atas pilihan dz ms sy, mensiasati ajaran Allah ms rasul-Nya. Sebaliknya Allah, dengan satu ajaran ms rasul-Nya juga melakukan siasat. Yaitu Allah, atas pilihan Nur ms Rasul-Nya adalah pembina siasat kehidupan indah tiada tanding”.



pembuktian ayat di atas menegaskan bahwa antara pilihan NUR msr dan zhulumad mssy saling bertolak belakang dalam hal siasat = stretegi iman



jika kita rinci, maka strategi dan taktik paling pokok antara iman haq ( NUR msr ) dan iman bathil ( zhulumad mssy ) dirumuskan sbb:





2) Pokok-pokok Garis Iman.





Surat al-Baqarah ayat 285 membagi pokok-pokok garis iman, demikian :










285. “Rasul itu hidup berpandangan dan bersikap dengan apa yang telah diturunkan ms kerasulannya ( ajaran Allah ms Rasul) dari pembimbingnya, begitu semua mukmin, masing-masing hidup berpandangan dan bersikap dengan ajaran Allah yaitu risalah malaikat, yakni yang telah dibukukan dalam berbagai kitab menurut-Nya, yaitu kata mereka seterusnya : “Kami telah menanggapi dan kami hidup patuh menurut demikian ( Ajaran Allah menurut sunnah rasul ) , satu pembina kehidupan maha revolusioner menurut sunnah rasulmu, wahai pembimbing kami, yakni menurut alternative ajaran NUR msr dan atau zhulumad mssy Anda jualah hidup ini berjalan”.





Ayat diatas membagi pokok-pokok Garis Iman menjadi tahap Sami’na = Tahap penanggapan ajaran Allah, dan tahap Atha’na = Tahap hidup patuh sesuai ajaran Allah yang ditanggapi.



Inilah global strategi rasul dan mukmin yg mendukung sunnah rasul dalam mencapai Iman yg dikenal dengan priode makkiyah ( SAMI'NA ) dan madaniyah ( ATHA'NA ).



Garis iman haq yakni NUR msr bertolak belakang dengan garis iman bathil yakni Zhulumad mssy yg di rinci oleh data - data Alquran sbb:





Surat al-Baqarah ayat 93, membagi pokok-pokok garis iman demikian :







Wa idz akhadznaa miitsaaqakum wa rafa’naa fauqakumuth thuura khudzuu maa aatainaakum bi quwwatiw was ma’uu qaaluu sami’naa wa ‘ashainaa wa usyribuu fii quluubihimul ‘ijla bi kufrihim qul bi’sa maa ya’murukum bihii iimaanukum in kuntum mu’miniin.





93. “Yaitu satu ketika dikala mana Kami, atas pilihan manusia berlaku dz ms sy, telah merusak ikatan pergaulan hidup kalian yaitu Kami unggulkan atas kalian satu kehidupan yang bagaikan gunung Tursina memberatkan bumi. selanjutnya kami memerintahkan kalian “Terimalah apa yang telah Kami turunkan ( Taurat ms Musa ) untuk kalian dengan sepenuh hati dalam arti tanggapilah!”, niscaya mereka telah berkata : “Kami telah menanggapi dan kami mengingkarinya”. Oleh karena hati mereka telah mendapat kemantapan hidup musim-musiman menjadi kekufuran mereka. Tegaskan ( Muhammad ): “Sejahat-jahat sesuatu yang menggiring hidup kalian menjadi demikian adalah pandangan dan sikap hidup kalian dengan dz ms rasul.





Disini pokok-pokok garis iman tersusun dari tahap “Menanggapi” dalam arti benar-benar menanggapi sehingga jelas mengerti apa yang ditanggapi, dan tahap “Mengingkari”, dalam arti juga jelas memahami apa yang diingkarinya.



dari pembuktian di atas maka garis iman bathil disini adalah strategi SAMI'NA ( MENANGGAPI WAHYU DENGAN OBYEKTIF ILMIAH ) TAPI ASHAINA ( MENGINGKARI WAHYU YG TELAH DIPAHAMI ). hal inilah yg berlaku pada sebagian bangsa yahudi sehingga mereka dikenal sebagai ilmuwan yg mendominasi kehidupan zhulumad, sayangnya mereka memilih sebagai penyeleweng / perusak pandangan dan sikap hidup manusia. selain yg demikian, garis iman yg sangat merugikan dan hina adalah garis iman bathil ( ajaran yg tak syah dari sisi alternatif obyektiv dari ilmu Allah) karena hasil aduk2an NUR msr dan atau zhulumad mssy melahirkan ajaran anak haram jadah ( golongan ke 3 ) sbb:





Surat nisa’ ayat 46 mengajukan satu model yang lain dari pokok-pokok Garis Iman demikian :







46. “Sebagian Yahudi ( ahli kitab ) memutar balik ajaran Allah ms Rasul-Nya dari ( kedudukan dan fungsi ) yang sebenarnya dimana mereka menyatakan : “Kami telah menanggapi dan kami mengingkarinya”, dalam arti menanggapi bukan benar-benar menanggapi tetapi dalam arti “Biarlah kami tetap berpandangan dan bersikap dengan teori gembala domba ( demokrasi ) kami”, yakni bagai lidah biyawak yang bercabang dua yakni sama dengan tombak berbalut sutera untuk menikam dari dalam terhadap penataan hidup (Dinul Islam) dari Allah ms Rasul-Nya. Jikalaulah mereka bersikap “Kami menanggapi dan kami hidup patuh menurut demikian”, yaitu menanggapi dalam arti “Biarlah kami berpikir-pikir dulu”, sungguh yang demikian itu adalah lebih baik dalam arti ketangguhan ilmiah. Tetapi Allah, atas pilihan mereka yg dz ms sy, telah melaknat kebanyakan mereka yg tidak mau hidup berpandangan dan bersikap dengan ajaran Allah ms Rasul-Nya kecuali segelintir saja dari golongan ini yg beriman”.





Disini pokok-pokok Garis Iman tersusun dari tahap “Menanggapi” dalam arti asal sekedar menanggapi dengan motivasi - motivasi tertentu sehingga dapat dipastikan tidak akan menguasainya secara obyektif ilmiah. karena kecerobohan atau tergesa - gesa





Dari itu maka tahap kedua, “Mengingkari”, menjadi mengingkari sesuatu yang sebenarnya dia tidak menguasainya secara obyektif ilmiah. sehingga disimpulkan garis iman di atas adalah model SAMI'NA GHAIRA MUSMA'IIN tapi ASHAINA. JADI MENGINGKARI APA YG DIA TAK BENAR - BENAR PAHAMI ALIAS ASAL MEMAHAMI AJARAN Allah TAPI MENGINGKARI AJARAN ALLAH





Sehingga yang demikian ini bernilai bajingan yang lebih dzulumat dari dzulumat yang sebenarnya ms syayathin atau ilmiah monyet dibelukar peradaban, seperti disitir oleh surat al-a’raf ayat 179 dan 166 demikian :

















Fa lammaa ‘atau ‘ammaa nuhuu ‘anhu qulnaa lahum kuunuu qiradatan khaasiin.





166. “Akhirnya tatakala mereka yang aduk-adukan Nur dz sy itu telah melampaui batas dari apa yang mereka dilarang perihal yang demikian itu niscaya Kami tegaskan bagi yang demikian itu : “Silakan kalian berpandangan dan bersikap hidup menjadi bagaikan tabiat monyet yang hanya suka imitasi meringkik-ringkik ditaman Nur ms Rasul yg tiada tanding!”.



model yg demikian adalah model yg menjadi korban yg juga mengorbankan pandangan dan sikap hidup diri dan org lain dalam satu tatanan hidup bagai neraka dunia dimana mereka adalah golongan munafiq atau mujrimuun ( oportunis ) pencari keuntungan dalam kesempitan. inillah yg paling berbahaya.





Model keempat dari pokok-pokok Garis Iman ialah Jahiliyah, yaitu yang hampir-hampir tidak dapat memahami kalam Allah ms Rasul-Nya. mereka ini masuk kategori LAA SAMI'NA TAPI ATHA'NA. sehingga mereka mematuhi apa yg sebenarnya mereka tak pahami secara obyektif ilmiah. karena pengaruh kepercayaan warisan tradisi nenek moyang yg sdh berurat berakar. sehingga mereka inilah golongan yg bagaikan sapi perahan atau bagai binatang ternak korban imperialisme golongan inilah yg kebanyakan mengisi alas lantai jahannam sbb:



Wa la qad dzara’naa li jahannama katsiiram minal jinni wal insi lahum quluubul laa yafqahuuna bihaa wa lahum a’yunul laa yubshiruuna bihaa wa lahum aadzaanul laa yasma’uuna bihaa ullaa-ika kal an’aami bal hum adhallu ulaa-ika humul ghaafiluun.





179. “Dan sungguh Kami, atas alternatif Nur dan dzulumat ms rasul dan atau alternatif dz ms sy, telah memperkaya bagi kehidupan jahanam kebanyakan manusia dan jin, baginya ada hati yang tidak mau bertanggapan sesuai dg yg demikian ( Ajaran Allah menurut sunnah rasulnya ) , baginya ada Mata yang tidak mau memperhatikan sesuai dengan yang demikian, dan baginya ada telinga yang tidak mau menyimak sesuai dg yg demikian. Itulah dia yang bagaikan binatang (bajingan) bahkan lebih dzulumat dari bajingan ms syayathin apapun. Itulah dia yang mengabaikan pilihan haq ( obyektif ilmiah ) Nur dan dzulumat ms Rasul yang demikian agung”.





Maka pokok-pokok Garis Iman disini menjadi bertahap “Tidak bisa dan atau tidak mau menanggapi”, sehingga menjadi tidak memahami ajaran Allah ms Rasul-Nya.





Tetapi lucunya pada tahap kedua, mereka menjadi terbelah kedalam “Masa yang mereka sendiri tidak memahaminya” dan atau “Mengingkari yang sebenarnya mereka tidak memahaminya”. jadi mereka juga sebagian menjadi golongan LAA SAMI'NAA TAPI ASHAINA





Dengan demikian maka pokok-pokok Garis Iman kita susun menjadi seperti dalam sket sebagai berikut :





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUdKfVhsatfoLP8ArnA0S9rsHZrhDUHs7Jg2fIdASyuYQsv05vKrmi-BbHm7dkSrrNhY5Tl6mKjipn28bJZvbmGJOeqdnGk7OxOEVH7VyI1eEwxD3eGPwkBCMIiZRX0h77Uu528Tby79Y/s320/1.jpg





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUdKfVhsatfoLP8ArnA0S9rsHZrhDUHs7Jg2fIdASyuYQsv05vKrmi-BbHm7dkSrrNhY5Tl6mKjipn28bJZvbmGJOeqdnGk7OxOEVH7VyI1eEwxD3eGPwkBCMIiZRX0h77Uu528Tby79Y/s320/1.jpg









Demikianlah pokok-pokok Garis Iman secara umum, dengan lain perkataan, kembali kepada lukisan segitiga ABC sama sisi dalam segitiga AEF diatas, maka “Sami’na ialah D – B2 dan “Atha’na” ialah AB2C.





“Sami’na wa ‘ashaina” ialah tawalla ( maling) BC yang dikaddaba yaitu manipulasi dengan stempel hasil experiment CDF menjadi FDC.





Sebaliknya “Sami’na wa ‘ashaina”dalam arti “wasma” ghaira musma’in wara’ina” ialah kaddaba yaitu penyamaran/pengaburan ABC dan BED menjadi aduk-adukan BDC ( idealisme) dengan stempel intuisi.





Adapun model jahiliyah adalah tergolong kedalam Garis Kuda Delman untuk sebakul rumput, atau garis bagong yang ngelayap dimalam buta.





Selanjutnya “Sami’na” tahap menanggapi, menurut perbedaan sasarannya, kita bagi lagi menjadi Rattil Satu Persiapan Iman dan Shalat satu pembinaan Iman........

AWWALA WAJIBI 'ALAL INSAN MA'RIFATULLAH ( MENGENAL KEDUDUKAN DAN FUNGSI ALLAH )

a) Malik (المالك) raja/ pemilik / penguasa :

Tiada Pemilik/ Raja selain Allah dg pembuktian Alquranu wa sunnaturrasul (QS. 4: 131)

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا



“Dan sepertihalnya menurut ajaran Allah peristiwa organis biologis di alam semesta, maka seperti itu pula halnya ilmu sosial budaya menurut ketentuan ilmu Allah. dan sungguh Kami telah mewasiatkan / mengajarkan kepada orang-orang yang dikurniai ilmu yg dibukukan menjadi kitab2 menurut sunnah rasul sebelum sunnah anda ( muhammad ) agar mereka bertakwa sesuai ajaran Allah. Tetapi jika kalian berlaku negatif thp Alquranu wa sunnturrasul , maka , sesungguhnya fakta organis biologis di alam semesta hanyalah menurut ilmu Allah begitu juga sosial budaya. dan adalah ilmu Allah Maha Kaya wawasan lagi Maha Terpuji.”



b) Hakim (الحاكم) ; Pembuat hukum.



Tiada pembuat hukum selain Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam (QS. 6 : 114) :

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلاً وَالَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ

أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ



“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur�an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur�an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.”



Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 6 : 57)

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ

“Tidak ada hukum yg memberikan kepastian ilmiah selain berdasarkan hukum Allah.”



c) Amir (الأمير) : Pemerintah (yang berhak memberikan perintah / pengatur / pengurus / pemimpin )

Tiada pemerintah (yang berhak memberikan perintah dan atau larangan) selain perintah dan atau larangan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah mengatakan



(QS. 7 :54):

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

hanya menurut ilmuNYA ( Alquranu wa Sunnaturrasul ) sepertihalnya segala penciptaan terwujud demikian pula halnya segala urusan / tata aturan sosial budaya nur yg yg Allah tumbuh kembangkan menurut sunnah anda ( muhammad ). adalah Allah ( dg pembuktian Alquranu wa Sunnaturrasul ) pembimbing kehidupan alam semesta dan sosial budaya



d) Wali (الولي) : Pelindung/pemimpin/ panglima.



Tiada pelindung/pemimpin / panglima kehidupan selain Allah SWT. Allah berfriman dalam Al-Qur’an (QS. 2:257)



اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ



“Allah ( dg pembuktian Alquranu wa Sunnaturrasul ) adalah Panglima hidup orang-orang yang beriman; yg membebaskan mereka dari zhulumad (kekafiran) menuju NUR (iman). Sebaliknya orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah Thagut, yang menjerumuskan mereka dari Nur menuju zhulumad (kekafiran). Mereka itu adalah pendukung tatanan hidup NAR ; mereka abadi ( terus menrus ) di dalamnya seabadi pandangan dan sikap hidup yg mereka bangun.”



e) Mahbub (المحبوب) : Yang dicintai.

Tiada yang dicintai selain Allah ( dg pembuktian Alquranu wa sunnaturrasul ) SWT Dalam Al-Qur’an Allah SWT mengatakan (QS. 2 : 165):

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى

الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

" Sebagian manusia adalah yg menjadikan selain ajaran Allah sebagai pembina pandangan dan sikap hidupnya, mereka mencintainya seolah2 mencintai ajaran Allah yg sebenarnya. sebaliknya mrk yg benar2 beriman dipuncak kerinduan tuk hidup menurut ajaran Allah.....



f) Marhub (المرهوب): Yang ditakuti.

(QS. 9 : 18)



إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللَّهَ فَعَسَى

أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ



“ Sebenarnya ajaran / ilmu yang mengatur mesjid-mesjid Allah ( organisasi - organisasi  Alquranu wa sunnaturasul ) ialah orang-orang yang telah beriman kepada Allah yaitu sesuai pembuktian sejarah para rasul yg menuntut kehidupan terakhir ( khasanah fid-dunya wal akhirat ) , menegakkan shalat satu pembinaan iman, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada melanggar ajaran Allah, maka merekalah orang-orang yang dijadikan dari golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”



g) Marghub (المرغوب): Yang diharapkan

Tiada yang diharapkan selain Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 94 : 8) :

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Dan hanya menurut ajaran pembimbing kehidupan ( Allah 0 menurut sunnah anda ( muhammad ) hendaknya kamu berharap.”



h) Haul wal Quwah (الحول والقوة) : Daya dan kekuatan

Tiada daya dan tiada kekuatan selain Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 51 : 58) :

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sesungguhnya Allah dg pembuktian Alquranu wa sunnturrasul adalah Maha Pemberi kehidupan adil makmur Yang Menguasai ketangguhan ilmiah lagi berdaya guna



i) Mu’dzam (المعظم) :

(QS. 22 : 32):

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah halnya. maka barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar ajaran Allah, maka sesungguhnya berdasarkan hati yg taqwa.



j) Mustaan bihi (المستعان به) : tempat pengharapan hidup tolong menolong.

Tiada yang dimintai pertolongan selain Allah dg pembuktian Alquranu wa Sunnaturrasul. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 1 : 5) :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya menurut ajaran menurut sunnah rasul anda kami mengabdikan diri yaitu mengharap kehidupan saling tolong menolong

Rabu, 03 Agustus 2011

SEKILAS SEJARAH ISRAEL

A. Perjalanan sejarah bangsa Israel

Max I. Dimont, sejarawan Yahudi, dalam bukunya “Jews, God, and History”, menulis, “Ketika, akhirnya, pada abad XII SM, bangsa Yahudi menetap di sebuah negara yang dapat mereka sebut sebagai milik mereka sendiri, mereka memilih sejalur wilayah yang merupakan koridor bagi tentara imperium-imperium yang sedang berperang. Bangsa Yahudi haus membayar pilihan ini, terbantai di medan pertempuran, dijual sebagai budak, atau dideportasi ke negeri-negeri asing. Tapi mereka terus datang ke tempat tua tersebut, membangun jalur pemukiman kecil baru yang secara berganti-ganti disebut sebagai Kan’an, Palestina, Israel, Judah, Judea dan sekarang Israel lagi”. Sebagai seorang ilmuwan Yahudi dan juga mayoritas kaum Yahudi lainnya, Max I. Damon meyakini secara aqidah bahwa palestina adalah milik bangsa Yahudi, karena nenek moyang mereka pernah mendirikan sebuah negara disana.

Kawasan itu merupakan kawasan strategis yang menghubungkan antara Asia, Afrika dengan Eropa. Dan dengan doktrin aqidah yang demikian kental, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bangsa Yahudi tidak mengenal putus asa untuk kembali ke Palestina.

Kaum Yahudi sekarang, secara umum, terdiri dari dua kategaori besar. Pertama, disebut bangsa Sam (Semitic), mengaku sebagai keturunan nabi Ibrahim as, lazim juga disebut bangsa Kan’an. Yang kedua adalah yang bukan Sam, seperti yang berkulit hitam dan sebagainya, bukanlah keturunan langsung dengan nabi Ibrahim as.

Nabi Ibrahim as berasal dari Ur, Irak selatan, kemudian hijrah ke Kan’an Palestina sekitar tahun 2000 SM, disitulah lahir nabi Ishaq as, kemudian berputera nabi Ya’qub as, kemudian berputera nabi Yusuf as, Kan’an ketika itu terhitung sebah desa, Al Qur’an menyebutnya baduwi (QS 12:100).

Setelah nabi Yusuf as menjadi pembesar di Mesir, nabi Yaqub as beserta seluruh keluarganya hijrah ke Mesir. Di Mesir mereka mengalami kemajuan dan perkembangan, baik dari segi jumlah orang, maupun kekayaan dan kedudukan. Setelah nabi Yusuf as meninggal dunia, kondisi sosial mereka yang semula terhormat mulai bergeser, karena mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar, serta jauh dari syariat nabi Yusus as.

Kerajaan Mesir yang tadinya mereka kuasai, diambil alih kembali oleh penduduk asli Mesir dengan menghidupkan kembali Pharaoisme. Sejak itulah bangsa Yahudi mengalami nestapa, mereka diperbudak berabad-abad lamanya oleh bangsa Hykhos, nama sukun dari Asia dan kemudian oleh bangsa Mesir sendiri.

Sesuai dengan kehendak Allah swt, kemudian nabi Musa as lahir, dia keturunan bani Israel dari suku Levi, beliau diselamatkan Allah swt dari petaka Fir’aun, bahkan menjadi putra angkat sampai menginjak dewasa. Karena membunuh bangsa Mesir untuk membela orang Yahudi, nabi Musa as melarikan diri ke Madyan dan menikah dengan seorang puteri nabi Syu’aib as. Setelah selama sepuluh tahun bersama keluarga besar nabi Syu’aib as, Allah swt memerintahkannya kembali ke Mesir, sebagai seorang rasul yang diutus kepada bani Israel. Nabi Musa as pun berdakwah menyebarkan risalahnya, sampai beliau bersama sejumlah pengikutnya harus hijrah kembali ke Palestina, karena Fir’aun berkehendak membersihkan mereka dari bumi Mesir.

Didalam al Qur’an 5:21-26, perintah menuju Palestina memang datang dari Allah swt, tapi mereka enggan masuk ke Palestina meskipun dijamin kemenangan oleh Allah swt, bahkan berani berkata tidak sopan kepada nabi Musa as, maka Allah swt mengharamkan bumi Palestian selama empat puluh tahun dan mereka terlunta-lunta di padang Tiih.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa hampir duaratus tahun bangsa Yahudi terpontang-panting dikawsan tidak bertuan (padang Tiih) dan sekitarnya, sampai nabi Daud as dan nabi Sulaiman as berhasil mendirikan kerajaan di Palestina, tahun 1040-970 SM.

Kerajaan nabi Daud as yang kemudian dilanjutkan oleh nabi Sulaiman as itu hanya utuh selama beliau masih hidup, setelah nabi Sulaiman as wafat, kerajaan itu pecah menjadi dua, Kerajaan Yahuda dan Kerajaan Israel.

Pada tahun 721 SM, kerajaan Israel ditaklukkan oleh Tiglath-Pileser III, raja Assyyira. Pada tahun 586 SM, raja Nebuchadnezzar menaklukkan kerajaan Yahuda. Seluruh bangsa Yahudi digiring ke Babylonia untuk menjadi budak. Di Babylonia itulah para pemuka Yahudi menanamkan doktrin ‘janji kembali ke kampung halaman’ kepada para pengikutnya.

Kemudian pada tahun 550 SM, hampir seluruh kawasan Palestina diintegrasikan kedalam kekuasaan Persia. Ketika Alexander the greath menguasai Palestina pada tahun 334 SM, Alexander membawa bangsa Yahudi ke Yunani, dari sini mereka kemudian menyebar ke berbagai kawasan di Eropa. Kemudian sejak tahun 160 SM diintegrasikan kedalam kekaisaran Romawi.

Pengungsian besar-besaran bangsa Yahudi terjadi lagi pada tahun 66 M sampai tahun 70 M, setelah pemberontakan mereka terhadap penguasa Romawi gagal dan Gubernur Romawi pada waktu itu, Titus membantai puluhan ribu orang Yahudi untuk memadamkan pemberontakan.

Demikianlah seterusnya sampai kedatangan Islam pertama kali dipimpin oleh Umar bin Khattab ra pada tahun 637 M, mengikuti kemenangan Khalid bin Walid terhadap Romawi Binzantium di Damascus pada tahun 635 M, Umar bin Khattab ra kemudian mewaqafkan Yerusalem dan tanah Palestina kepada umat Islam seluruh dunia.

Pada tahun 1099 M tentara salib (crusaders) berhasil menguasai Palestina dan kota Yerusalem, dengan membantai 70.000 penduduknya, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Dengan ijin Allah swt, pada tahun 1187 M, pahlawan Islam, Shalahuddin Yusuf bin Ayyub mengembalikannya kembali dalam pangkuan Islam dan tetap mempertahankannya, meskipun selama lima tahun sampai 1192 M, harus berperang dengan seluruh raja-raja besar Eropa seperti Richard (Inggris), Frederick (Jerman), Leopold (Austria), Louis (Perancis), raja Sisilia, yang berusaha merebut Yerusalem kembali, tetapi mereka tidak berhasil.

Dalam naungan Islam, negeri Palestina dan kehidupan antar bangsa Yahudi, Filistin dan Arab mengalami perdamaian sampai negeri ini lepas dari naungan Islam pada tahun 1917 setelah Inggris mengalahkan bani Ustmaniyyah dalam Perang Dunia I, mandat Inggris ini dikokohkan dalam konferensi San Remo tahun 1920, dan pembela Palestina yang utama hilang bersamaan dengan runtuhnya bani Ustmaniyyah pada tahun 1924.

B. Beberapa karakter Yahudi didalam Al-Qur’an

Bila kita membuka Al Quran, maka pertama kali kita temukan adalah surah Al Fatihah yang kita baca setiap kali shalat. Surah pertama itu sudah mulai berbicara mengenai hakikat Yahudi, yakni mereka adalah orang-orang yang dimurkai Allah (al-maghdhubi-‘alaihim). Demikian pula surah Al Baqarah , kita akan menemukan di dalamnya 83 ayat berturut-turut berbicara tentang Yahudi, dimulai dari ayat 40 sampai ayat 123. Kemudian disusul dengan puluhan ayat lainnya yang kesemuanya menyoroti tingkah laku kaum Yahudi dalam beragam kondisi dan masalah.

Yang lebih menarik ialah, ayat-ayat tersebut mampu memberikan gambaran sebagian besar sejarah bangsa Yahudi yang penuh kenistaan serta memberikan kata kunci yang menjelaskan watak asli mereka. Kata kunci itu terdapat dalam ayat 120 surah Al Baqarah yang artinya, secara psikologis dan historis, mereka tidak pernah dan tidak akan ridha terhadap uamt Islam. Meskipun pada waktu tertentu mereka memperlihatkan sikap manis dan tutur kata yang halus, mereka tetap melihat uamt Islam dengan penuh curiga dan dendam dan menganggap umat Islam merupakan ancaman utama bagi eksistensi Yahudi.

Catatan sejarah mengenai hal ihwal Yahudi ini kita temukan secara lengkap dalam Al Quran di pelbagai surah. Bahkan bani Israil adalah umat yang paling banyak disoroti Al Quran daripada umat lain. Sebab Yahudi adalah tipikal manusia unik. Perjalanan hidup mereka perlu dijadikan pelajaran agar tingkah laku, pola pikir dan sikap pembangkangan mereka terhadap kebenaran yang dibawa para rasul, serta kecenderungan mereka melakukan kerusakan di muka bumi tidak terulang kembali pada umat nabi Muhammad. Juga agar kelicikan dan pengkhianatan mereka terhadap apa saja bentuk perjanjian dan dengan siapa saja, dapat kita waspadai dan diantisipasi secara baik sedari awal.

C. Latar belakang berdirinya negara Israel

Bangsa Yahudi yang tinggal diperantauan, terutama di Eropa banyak dibutuhkan untuk menjadi kuli bangunan dan memajukan perekonomian, yang kesempatan itu menyebabkan mereka menjadi kelas menengah di Eropa, tetapi mereka tetap menjadi orang asing di Eropa, tahun 500 M, mereka diintimidasi di Spanyol, tahun 1300 M diusir dari Inggris, tahun 1400 M diusir dari Perancis, tahun 1500 M diusir dari Spanyol. Pada abad inilah Yahudi memperluas petualangannya sampai ke Eropa Timur, Rusia dan Amerika Selatan.

Selama satu abad, 1600 M sampai 1700 M, kaum Yahudi berhasil menguasai pasar dan perekonomian Eropa, dan bahkan mereka melibatkan diri dalam pendalaman ilmu pengetahuan modern.

Akhirnya mereka mulai melihat titik terang yang akan menyinari jalan ketika mereka hendak melangkah untuk kembali ke Palestina. Para ilmuwan mereka mulai berfikir merumuskan teori revolusi yang akan menghancurkan kehidupan manusia, dengan tujuan untuk mengacau dunia sehingga mempermudah jalan menuju Palestina.

Pada tanggal 1 mei 1776, tokoh Yahudi Nathan Bernbaum, mendirikan Zionisme Internasional, dua bulan sebelum kemerdekaan Amerika dideklarasikan. Yahuda Kalai (1798 – 1878), tokoh yang lain mempertegas perlunya negara Yahudi di Palestina. Izvi Hirsch (1795 – 1874), membuat studi agar diaspora Yahudi bisa mendirikan negara di Palestina. Moses Hess tokoh Yahudi membuat buku Roma dan Yerusalem. Theodore Herzl (1860 – 1904) membuat buku der Yudentaat (negara Yahudi) pada tahun 1896.

Untuk dunia Islam mereka tiupkan revolusi nasionalisme, melalui Lowrence of arabica, mereka berhasil memecahbelah negeri Arab untuk melepaskan diri dari khilafah Utsmaniyyah.

Meskipun Eropa dan Rusia sudah berhasil dikacaukan, penghalang utama cita-cita bangsa Yahudi adalah khilafah Ustmaniyah, yang menjadi penjaga setia tanah Palestina.

D. Sejarah berdirinya negara Israel

Berbagai langkah dan strategi dilancarkan oleh kaum Yahudi untuk menembus dinding khilafah Utsmaniyyah, agar mereka dapat memasuki Palestina.

Pertama, pada tahun 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada sultan Abdul Hamid, untuk mendapatkan ijin tinggal di Palestina. Permohonan itu dijawab sultan dengan ucapan “Pemerintan Ustmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diijinkan menetap di Palestina”, mendengar jawaban seperti itu kaum Yahudi terpukul berat, sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.

Kedua, Theodor Hertzl, penulis Der Judenstaat (Negara Yahudi), founder negara Israel sekarang, pada tahun 1896 memberanikan diri menemuai sultan Abdul Hamid sambil meminta ijin mendirikan gedung di al Quds. Permohonan itu dijawab sultan “Sesungguhnya imperium Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri”.

Melihat keteguhan sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan khilafah Ustmaniyyah.

Karena gencarnya aktivitas Yahudi Zionis akhirnya sultan pada tahu 1900 mengeluarkan keputusan pelarangan atas jamaah peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal disana lebih dari tiga bulan, paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. Dan pada tahun 1901 sultan mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada tahun 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap sultan Abdul Hamid untuk melakukan risywah. Diantara risywah yang disodorkan Hertzl kepada sultan adalah :

1. 150 juta poundsterling Inggris khusus untuk sultan.

2. Membayar semua hutang pemerintah Ustmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling Inggris.

3. Membangun kapal induk untuk menjaga pemerintah, dengan biaya 120 juta Frank

4. Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga.

5. Membangun Universitas Ustmaniyyah di Palestina.

Semuanya ditolak sultan, bahkan sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan “Nasehati mr. Hertzl agar dia tidak terlalu serius menanggapi masalah ini. Sesungguhnya saya tidak sanggup melepaskan kendati hanya satu jengkal tanah itu, Palestina, sebab bukan milik pribadiku. Tapi milik rakyat, rakyatku sudah berjuang memperolehnya sehingga mereka siram dengan darah. Silahkan Yahudi itu menyimpan kekayaan mereka yang milyaran itu. Bila pemerintahanku sudah tercabik-cabik, saat itu mereka baru bisa menduduki Palestina dengan gratis. Adapun jika saya masih hidup, maka tubuhku terpotong-potong adalah lebih ringan ketimbang Palestina terlepas dari pemerintahanku. Kasus ini tidak boleh terjadi. Karena saya tidak kuasa melihat tubuhku diotopsi sedang nadiku masih berdenyut”.

Berbagai cara kotor dilancarkan Yahudi untuk menghancurkan dunia Islam. Mereka mulai dengan menghancurkan Khilafah Utsmaniyah agar dapat menduduki Palestina. Mereka melakukan lobi denan Inggris, Perancis, Rusia dan Amerika.

1. Pada tanggal 1 mei 1776, tokoh Yahudi Nathan Bernbaum, mendirikan Zionisme Internasional, dua bulan sebelum kemerdekaan Amerika dideklarasikan.

2. Yahuda Kalai (1798 – 1878), tokoh yang lain mempertegas perlunya negara Yahudi di Palestina.

3. Izvi Hirsch (1795 – 1874), membuat studi agar diaspora Yahudi bisa mendirikan negara di Palestina.

4. Theodore Herzl (1860 – 1904) membuat buku der Yudentaat (negara Yahudi) pada tahun 1896.

5. 1897, Konferensi Basel , Swiss yang disponsori oleh Hertzl, merumuskan penghancuran Bani Ustmaniyah.

6. 1907, meningkatnya aktivitas Freemasonry untuk menjatuhkan Sultan Abdul Hamid dari kursi khilafah.

7. 1917, perjanjian Balfour untuk memberikan Palestina sebagai tanah air bagi Yahudi

8. 1927, meningkatnya pembangunan rumah dan gedung milik Yahudi di Palestina atas bantuan Inggris.

9. 1937, Yahudi di Palestina mulai membangun kekuatan terorisme bersenjata. Kemudian mereka mendapat bantuan senjata dan latihan militer dari sekutu ketika terlibat dalam PD II

10. Nopember 1947, dikeluarkanlah resolusi PBB tentang pembagian tanah Palestina anatara penduduk Palestina dengan Yahudi pendatang itu. Kemudian menyusul pembubaran Ikhwanul Muslimin dan pembunuhan terhadap Hasan al Banna yang banyak berperan membela Palestina.

11. 1956, Sinai dan Jalur Gaza dikuasai Israel setelah gerakan Islam di kawasan Arab dipukul.

12. 1967, semua kawasan Palestina jatuh ke tangan Yahudi, demikian juga dataran Tinggi golan dan Sinai. Terjadi setelah penggempuran terhadap Gerakan Islam dan hukuman gantung terhadap Sayyid Quthb.

13. 1977, serangan terhadap Libanon dan perjanjian Camp David yang disponsori Anwar Sadat.

14. 1988, surat rahasia Yasser Arafat untuk mengakui eksistensi Israel, berjanji hidup damai dengan Yahudi dan akan menumpas segala aktivitas rakyat Palestina yang melawan Israel.

15. 1993 Perjanjian Gaza Ariha mengenai pemerintahan sendiri interim bagi bangsa Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Israel.

16. 1994 Kesepakatan yang memberikan otonomi pertama kepada Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

17. 1995 Kesepakatan perluasan otonomi Palestina ke sebagian besar Tepi Barat.

18. 1996 Pemilu pertama bangsa Palestina, Yasser Arafat terpilih menjadi Presiden

19. 1997 Kesepakatan perluasan otonomi Hebron dan Tepi Barat.

20. 1998 Kesepakatan transfer 13 persen wilayah Tepi Barat dari Israel ke Palestina dengan imbalan jaminan keamanan.

21. 1999 Kesepakatan Wye River II, di Mesir.

22. 2000 Pertama kali Paus ke Yerusalem dan membela perlunya tanah air bagi Palestina.

23. 2001 Ariel Sharon menggantikan Ehud Barak

24. 2002 Israel membunuh pemimpin brigade al Aqsho, Raed el-Karmi.

D. Tokoh penting di balik berdirinya negara Israel

Beberapa tokoh penting dialik berdirinya negara Israel adalah : Theodore Hertzl, Arthur J Balfour, David ben Gurion, Golda Meir, Gamal Abdel Nasser, Moshe Dayan, Abdullah, Yasser Arafat, Anwar Sadat, Jimmy Carter, Menachem Begin, Yitzhak Rabin, Bill Clinton,

Benjamin Netanyahu, Ariel Sharon dan lain-lain

E. Kejahatan Yahudi terhadap dunia terutama Islam

Beberapa kejahatan Yahudi terhadap Islam telah dijelaskan terdahulu, antara lain dengan lahirnya ideologi Nasionalisme, Kapitalisme, Marxisme, Komusnisme dan lainnya.

Menurut Dr Jusuf Qordhowi, dimasa yang akan datang tantangan kejahatan besar Yahudi terhadap Islam adalah kejahatan Zionisme, kejahatan Naturalisasi dan kejahatan Globalisasi.

“Dunia Islam kini sedang terbakar. Setiap kita berkewajiban segera menyiramkan air sekalipun sedikit untuk memadamkan api yang bisa dipadamkan, tanpa menunggu orang lain.” Syaikh Amjad Al Zahawi.

“ Israel akan berdiri dan akan tetap berdiri sampai Islam menghancurkannya sebagaimana telah dihancurkan sebelum ini.” Imam Syahid Hasan Al Banna.

Wallohu ‘alam, Depok 27 april 2001

Perangkum, Memed Sosiawan

Maraji’/Kepustakaan:

Abu Ridha, Palestina, Nasibmu Kini. Yayasan SIDIK, Jakarta, 1994

Ja’far, Fathuddin MA, Dunia Islam Versus Tata Dunia Baru. LPPD Khairu Ummah, Jakarta,1994

Abu Ridha, Rencana Zionis Melumpuhkan Shahwah Islamiyah. Yayasan SIDIK, Jakarta, 1995

Selasa, 02 Agustus 2011

SEKILAS SEJARAH YAHUDI DAN IDENYA ( YAHUDISME ) PENENTU AGAMA / KEBUDAYAAN DI INDONESIA

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa Yahudi sebagai duta dari nilai ilmu idea Iblis pada masa Adam secara turun-temurun adalah representasi dari nilai ilmu keburukan atau kejahatan di masa kini. Dimana ajaran Yahudi adalah merupakan lawan dari nilai ilmu yang baik atau ilmu yang bernilai kebenaran yang dibawa oleh para Rasul Allah. Adapun kedua nilai yang baik maupun yang burukadalah datangnya dari Allah untuk menjadi pilihan manusia. Sedangkan yang dimaksud dengan lawan, sebenarnya adalah sama dengan kawan bermain di dalam mengisi perjalanan sejarah kehidupan manusia. Hanya sayangnya Yahudi tidak fair di dalam menyampaikan nilai, membuat manusia tidak lagi bisa menentukan pilihan. Yaitu dengan menyembunyikan nilai yang baik, serta hanya menyajikan ilmu yang buruk dan membungkusnya dengan bungkus yang yang bagus, bagaikan tombak berbalut sutra, atau bagaikan musang berbulu ayam, sehingga menipu manusia seantero dunia. Dengan kelicikan inilah Yahudi berhasil membikin manusia sama sekali tidak mengenal dirinya. Sehingga kini, oleh karena manusia sudah tidak mengenal siapa Yahudi sebagai dedengkot kejahatan dan kerusakan di muka bumi ini, maka akibatnya hampir semua manusia tidak mengenal Yahudi sebagai lawan, bagi yang ingin mewakili ilmu kebenaran. Oleh karena kita tidak mengenal lawan, maka kita mudah dipermainkan oleh lawan, sebagai akibatnya kita tidak mengetahui di mana jalan menuju kebenaran, menjadikan kita tidak bisa taat kepada Tuhan, tidak bisa membedakan mana lawan, mana kawan, dan tidak tahu kerjaan. Lihatlah betapa banyak manusia yang berkeinginan untuk hidup taat kepada Tuhan. Hampir semua manusia ingin hidup dalam persatuan dan kesatuan, ingin hidup berkeadilan dalam kemakmuran, ingin hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan dan sudah sedemikian rupa diupayakan, akan tetapi impian tinggal impian, hanya fatamorgana yang kita dapatkan. Maksud hati ingin berbuat taat kepada Tuhan, akan tetapi negasi dan pengingkaran yang kita lakukan. Persatuan dan kesatuan yang kita programkan, akan tetapi perpecahan dan permusuhan yang kita dapatkan. Keadilan dan kemakmuran yang kita canangkan, akan tetapi ketimpangan dan kemelaratan yang kita dapatkan. Kedamaian dan kesejahteraan yang kita harapkan, akan tetapi kekacauan dan kesengsaraan serta kejengkelan yang kita hasilkan. Inilah tombak berbalut sutra, dan inilah musang berbulu ayam, sebagai ilmu postmodern Yahudi yang telah menjerumuskan manusia ke dalam paradigma hidup yang demikian sulit dan ngawur tiada tara. Tulisan inipun dibuat bukan dalam rangka mendiskriditkan Yahudi sebagai lawan, melainkan sekedar upaya menjelaskan. Adapun pilihan baik ataupun buruk, kepada anda dipersilahkan untuk menentukan. Di bawah ini kita akan melihat bagaimana Yahudi melakonkan kehidupan yang penuh tipu muslihat dan berhasil menyusupkan idea-ideanya kepada bangsa-bangsa di dunia dari masa ke masa. Dimaksud dengan upaya penyusupan idea-idea adalah; Yahudi dengan idea jahatnya tidak perlu mendirikan kekuasaan, atau sebuah negara, namun cukup dengan mempengaruhi dan mengaduk-aduk ajaran yang dianut suatu bangsa dengan unsur-unsur yang memabukkan sehingga semakin sempoyonganlah suatu bangsa yang telah menghirup spora beracun yang ditebar oleh Yahudi, dan setelah itu kekacauan pasti akan terjadi. Untuk pembaca, kami akan ajak berkelana untuk melakukan ekspedisi ke dalam relungkedalaman sejarah 2000 tahun atau bahkan 4000 tahun ke belakang demi menyaksikan betapa Yahudi begitu konsisten di dalam menjalankan misi perusakan kejahatan sebagai tugas melanjutkan tongkat estafet Iblis hingga abad XXI ini adalah kelanjutan dan pengulangan dari abad-abad sebelumnya, maka cukuplah jika para ahli sejarah mencatat bahwa tongkat estafet kejahatan telah sampai kepada tangan Yahudi pada abad XX Sebelum Masehi , setelah sepeninggal Sunnah Ibrahim dan dilanjutkan sebagai Sunnah Yusuf (lihat Qur’an surat Yusuf : 4-101). Perkataan Yahudi dan Israel dilihat dari sudut keturunan adalah satu suku bangsa yang berumpun pada umat Nabi Yakub (lihat Injil Kitab Keluaran 46 : 1 dst). Suku bangsa Israel dan Yahudi adalah yang lahir dan dibesarkan dalam udara Fir’aun isme di Mesir sepeninggal Nabi Yusuf (lihat Injil Kitab Keluaran 1 : 11-15 dan Qur’an 2 : 131-141). Abad ke 19 SM, tegaknya Sunnah Yusuf Yaitu satu model kehidupan indah adil makmur di Mesir, maka dipindahkanlah ayahanda Ya’kub beserta sebagian keluarga sebagian masyarakatnya ke Mesir (lihat Qur’an 12 : 4-6 dan 100, dan Injil Kitab Keluaran 46 : 5-7) sebagian keturunan dan umat Yakub yang tetap di Kan’an dan dikenal sebagai Kaum Hebrew, yang merupakan manusia merdeka. Sepeninggal Nabi Yusuf, Klan Bani Israel, dan Yahudi, menghancurkan ajaran Allah yang dibawa oleh Yusuf, dikarenakan rasa dengki kepada Yusuf. Akhirnya melalui perang Hykos Bani Israel dan Yahudi dijadikan tawanan dan dijadikan budak-budak di Mesir oleh Raja Ramses II, yang masih termasuk dinasti Fir’aun. Walaupun dalam kondisi diperbudak Yahudi berhasil menyusupkan teori ideanya hingga lahirnya teori Tauhid Ahnatun, sebagai penyelewengan iman = pandangan dan sikap hidup, menjadi iman = percaya (akulturasi proses Fir’aunisme, dan Indo Babylon atau Asyiria). Dibawah ayunan Yahudi. Abad ke 12 SM, tegak Sunnah Musa dari keluarga Imran Dengan persiapan iman di Mesir, kemudian penataan di Palestina, terwujud satu model kehidupan indah, adil makmur, sejahtera, tetapi bukan model Kerajaan atau Monarki, dan bukan dengan Tauhid Platonis serta membebaskan rakyat dari kemiskinan serta menghapus sistim perbudakan, sehingga ikut terbebaslah Yahudi dan Israel dari penderitaan sebagai budak di Mesir, dan kembali ke Palestina (lihat Qur’an 7 : 105, 20 : 47, 26 : 17 dan Injil Kitab Keluaran 5 dan 6). Sepeninggal Musa dan Harun, Yahudi dengan naluri jahatnya memutar-balikkan Taurat yang ditinggalkan oleh Musa menjadi Moses-isme oleh Musa Samiri, yaitu aduk-adukan ajaran kebenaran dan kebathilan sehingga merusak kehidupan Yahudi dan Israel itu sendiri. Abad 11 SM, tegak peradaban Kreta/Filistin dengan rajanya Jalud Menyerbu ke Palestina dan menghancurkan Yahudi dan Israel yang sudah babak belur akibat ulahnya sendiri (lihat Qur’an 20 : 84-85, 2 : 251). Abad 10-9 SM, tegak Sunnah Daud dan Sulaiman di Palestina Dengan konsep wahyu dari Tuhan yang bernama Zabur/Tabut, yang memulihkan kembali Taurat yang sudah diaduk-aduk oleh Yahudi menjadi Moses-isme, dan terwujudlah satu model hidup adil makmur dan sejahtera. Serta menghancurkan sistim Monarki dan menghapuskan perbudakan. Dengan demikian maka termasuk Yahudi dan Israel ikut terbebaskan dari penderitaan perbudakan oleh raja Jalud. Pada abad 8-7 SM Yahudi dan Israel berhasil menduduki tanah Kanaan yang berpusat di Palestina sendiri di Palestina, sehingga terbelah menjadi dua; (1) Israelia dan (2) Yudea, kemudian menjadi makanan empuk dari Kerajaan Asyiria dengan rajanya Sargon II menggempur Palestina. Kendati Israelia hidup di bawah tekanan raja Sargon dari Asyiria Babylonia. Israelia masih sempat menyusun tiga dokumen sebagai pencampur-adukan ajaran Allah yang dibawa oleh Yusuf dan Daud serta Sulaiman menjadi Jehova atau dokumen (J), dan dokumen Elohim (E), serta dokumen Pentateh (P), pada :Abad ke 9 SM dilakukan penulisan Dokumen (J) JehovaAbad ke 8 SM dilakukan penulisan Dokumen (E) ElohimAbad ke 6 SM dilakukan penulisan Dokumen (P) Pentateuh Sedangkan Yudea yang hidup di bawah tekanan raja Yosiah pada abad ke 5 SM, Yahudi berhasil melakukan fusi dan reformasi/pengumpulan ke tiga dokumen menjadi satu, sebagai bibit dan untuk mengisi Kitab Perjanjian lama kelak. Tahun 597 SM Asyiria dikalahkan oleh Babylonia dengan rajanya Nebukadnezar. Yahudi menjadi semacam piala bergilir, dan jatuh menjadi tawanan dan dilanjutkan menjadi diperbudak kembali oleh Nebukadnezar. Tahun 530 SM Tegak persia lama dengan rajanya Cyrus, kemudian dilanjutkan oleh raja Cambises. Baru Yahudi dan Israel dilepaskan dari Babylonia. Tahun 444 SM Di bawah pimpinan Ezra dan Nehemia, seperti halnya politik raja Yosiah, dilakukan satu fusi terakhir atas ketiga dokumen (yang telah dilengkapi dengan dokumen (P) sebagai kumpulan catatan menurut subjektifitas para pengaduk-adukan dari unsur Fir’aunisme, Namrudisme dan Asyiria) menjadi satu Kitab Suci Old Testamen (yang terdiri dari Kitab Kejadian – Kitab Keluaran – Kitab Imamat Rang Lewi – Kitab Bilangan – dan Kitab Ulangan yang dipopulerkan sebagai buah tangan Musa). Bani Israel dan Yahudi pulang kembali ke Palestina di bawah pimpinan Ezra dan Nehemia adalah golongan yang fanatik membabi buta ingin membangun suatu masyarakat Yahudi secara konsekwen menurut wahyu yang turun di Bukit Zion. Dari golongan inilah kelak lahir gerakan Zionis. Sebaliknya, dari sebagian Bani Israel yang sudah berhasil mengaduk dan mengadopsi alam pikir Yunani, mereka menganggap bahwa Kitab Perjanjian Lama sudah kadaluarsa, dan tidak dapat melayani masyarakat yang sudah berubah, maka Kitab Perjanjian Lama harus diterjemahkan dan ditafsirkan sesuai dengan selera masyarakat yang sudah berubah. Golongan ini, Yahudi dan Israel yang tidak mau kembali pulang ke Palestina, dan memilih menyebar dan menyelinap ke dalam berbagai bangsa, dan berusaha mewarnai kebudayaan serta pola pikir bangsa-bangsa yang diselusupinya. Golongan ini disebut sebagai Yahudi Diaspora. Diaspora adalah merupakan suatu bahan baku utama bagi kepastian hidup tersurat orang-orang Yahudi. Jika tidak karena Diaspora, orang-orang Yahudi sudah menjadi punah seperti bangsa-bangsa lain yang hidup dan mati di tapal batas negerinya sendiri, atau punah dengan mudah ketika dicangkokkan pada budaya-budaya bangsa lain. Diaspora tidak saja menyelamatkan orang-orang Yahudi dari kepunahan, dan bahkan menempatkannya di tengah-tengah sejarah. Dan karena Diaspora orang-orang Yahudi tidak pernah mati dalam budaya dikala budaya dan peradaban tuan rumah mati sekalipun (MAX I DIMONT). Dari perunutan sejarah tersebut di atas menjadi jelas bahwa fusi/pengumpulan terakhir dari ke tiga dokumen di bawah Ezra dan Nehemia sepulang dari Babylonia, menjadi Kitab Perjanjian Lama. Abad ke 5 SM Ini pula munculnya alam pikir Yunani, yang berasal dari suku bangsa Arya yang menyerbu ke pulau-pulau di teluk Agea. Yaitu munculnya teori Idealisme oleh Plato dan Naturalisme oleh Aneximandros sebagai penyelewengan Taurat menurut Sunnah Musa dan Zabur menurut Sunnah Daud/Tabut menurut Sunnah Thalut, sebagai penyelusupan idea Yahudi Diaspora. Dengan demikian menjadi jelas bahwa Yahudi Diaspora adalah pencuri ilmu Allah yang diaduk-aduk dengan alam pikiran Yunani. Munculnya Yunani pada abad ke 5 SM yang berasal dari suku bangsa Arya yang menyerbu ke pulau Agea pada jaman Nabi Musa ketika menghapuskan sistim perbudakan dan Yahudi ikut terbebaskan dari Mesir menuju Palestina, adalah pengaruh dari kebangkitan Taurat menurut Sunnah Musa, dan Zabur menurut Sunnah Daud (Tabutnya Thalut) jadi alam pikir Yunani yang berupa idealisme dan Naturalisme adalah penyelewengan Taurat menurut Sunnah Musa dan Zabur menurut Sunnah Daud/Tabut menurut Sunnah Thalut oleh Yahudi. Perkembangan kebudayaan Yunani seumumnya dan dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya adalah mulai timbul ketika hidup di perantauan pantai Asia bagian Barat Palestina. Kemudian atas peristiwa penyerangan raja Darius yang mau menggempur Yunani, dimana daerah Palestina dijadikan Travel Basic, maka semua perantau Yunani melarikan diri pulang ke Yunani melalui pulau Cisilia/ujung Italia, kemudian masuk lewat Romawi. Yunani di dalam hidupnya mengikuti ajaran Yahudi dari hasil pemutar balikan ajaran Zabur ms Daud/Tabut ms Thalut yang diwariskan kepada Sulaiman, selanjutnya hasil pemutar-balikan itulah diajarkan kepada manusia seluruh dunia (Qur’an 2 : 102). Dengan demikian dapat disimpulkan Yunani sebagai siswa/murid, dan Yahudi menjadi guru besarnya. Tahun 400 SM Tegak Sunnah Zakaria, dalam bentuk pemancangan tiang pertama dalam proses dakwah yang sudah demikian lama, kepada generasi berikutnya yaitu Maryam Tahun 356-323 SM Muncul Persia baru, sebagai blok Timur, dengan raja Alexander the Great, dan blok Barat Imperium Romawi dengan dipimpin oleh Jendral Pompay. Tahun 667 SM Sebagai akibat dari perilaku buruk Yahudi yang gemar akan kekacauan, maka jika tidak ada yang dikacaukan, maka Yahudi membuat kacau dirinya sendiri, hingga Bani Israel dan Yahudi terpecah lagi, dan menjadi sasaran empuk untuk dijadikan jajahan Romawi. Hal demikian terjadi dikarenakan ketika mereka terpecah, sebaian mereka meminjam tangan Alexander the Great, dan sebagian yang lain meminjam tangan Jendral Pompay dari Romawi. Tahun 12 SM Hancurnya blok Barat dan blok Timur, yaitu perang terbuka antara Romawi yang mewakili Blok Barat dengan rajanya Jendral Pompay, melawan Persia Baru sebagai representasi blok Timur dengan rajanya Alexander the Great, menjelang tegaknya Sunnah Isa Ibnu Maryam Abad pertama Maryam Dengan sisa-sisa Sunnah Zakariya yang sudah bagaikan pohon kurma yang tidak berpucuk lagi, ingin membebaskan bangsanya dari blok Barat dan blok Timur Turunnya Injil menurut Sunnah Isa Ibnu Maryam yang mengujudkan satu model kehidupan indah yang sama sekali tidak sama dengan Romawi atau Persia yang berbentuk Monarki atau Kerajaan. Isa Al Masih juga berhasil mengangkat harkat kemanusiaan dari sistem perbudakan dan menyembuhkan penyakit dari Iri dan dengki masyarakat yang bagaikan penyakit sopak yang sangat sukar disembuhkan, dan membuat orang-orang yang buta mata hatinya menjadi terbuka dan dapat melihat serta membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Isa Al Masih juga menghidupkan orang-orang yang mati jiwanya akibat stres dan tekanan hidup tiada tara. Dari itu Isa Al Masih juga dikenal sangat dekat dengan masyarakat tertindas/bawah. Tahun 35-40 Masehi Saul of Tarsus dibantu oleh seorang Yahudi bernama Philo mensintesa Old Testament dengan karya-karya Plato (Idealisme) menjadi agama Nasrani atau Kristiani. Tahun 50 Masehi Helenisme, yaitu alam pikir Yunani yang berjubah Kristenisme menjadi agama Kristen mulai dipeluk oleh orang-orang Pagan dan menjadi agama dunia. Tahun 58 Masehi Sisa blok Timur antara lain Jendral Ptolomus di Mesir dan Palestina dan Jendral Sulucus di sekitar Eufrat dan Tigris. Sementara Jendral Antigonus di Yunani. Dan pada tahun itu pula hancurnya Imperium Romawi di bawah raja Nero. Awal abad pertama Rabbi Jochananben Zakkai mengaduk-aduk Injil menurut Sunnah Isa dengan puntung-puntung ajaran Majusi dan Romawi menjadi Old Testament atas nama Musa dan Daud, serta New Testament atas nama Isa anak Allah (yang diolah perguruan Tinggi Jeshiva di Jabneh, sebelah utara Jerusalem). Sebagai bungkus agama Yahudi, dalam bentuk agama Kristen seperti yang kita kenal sekarang untuk dieksport ke Eropa dan kepenjuru dunia. Dan sejarah mencatat bahwa bangsa Belanda dan bangsa Portugis yang datang ke Indonesia pada abad ke 16 Masehi adalah merupakan bangsa yang melakukan penjajahan dan penjarahan serta merusak harkat dan martabat kemanusiaan bangsa Indonesia, sekaligus menjadi guru dan gurunya bangsa Indonesia dalam mengerti agama Kristiani yang demikian carut-marut/tidak menentu ini di Indonesia. Tahun 64 Masehi Saul of Tarsus atau Santo Paulus pendiri agama Nasrani dengan merek Yesus Kristus, sebagai pembawa missi Romawi Timur untuk melawan Zionisme. Tahun 68 Masehi Jerusalem dikepung dan dihancurkan oleh Vespasianus atau Raja Titus. Tahun 70 Masehi Yahudi bergentayangan di Jazirah Arab selanjutnya membantu Arab dalam menghadang masuknya Kristen. Walaupun agama Kristen tidak diperbolehkan masuk, namun paham Yahudi tetap terus merayap dan menyusup ke Arab, sehingga paham Monoteisme menjadi indikator ajaran Yahudi bagi kehidupan dan pendidikan di Arab. Sehingga pada abad ke IV Masehi, sepenjuru bagian Utara dan Timur Laut Arab, sudah berorientasi Helenisme, yaitu Old Testament versi Yunani, dengan dibabtisnya adik raja Imruul-Qish Tahun 324 Masehi Agama Kristen menjadi satu lembaga dalam Kerajaan Romawi yang sedang terhuyung-huyung. Tahun 500 Masehi Raja Heraklio mejadikan Mesir sebagai Propinsi Romawi untuk mengkristenkan Arab secara keseluruhan untuk menjadi antek Romawi. Tahun 525 Masehi Raja Najasi memberangkatkan Divisi Ariadh dan Abarahah, untuk mengkristenkan Arab, namun dalam perjalanannya Ariadh dibunuh oleh Abarahah, karena diketahui bermain mata dengan agen Zionisme yang bernama Dzun Nuwaas selanjutnya Abrahah berhasil meng-Kristenkan sepenjuru panyai Arab dan Yaman menjadi antek Romawi yang berorientasi Helenisme. Masih pada awal abad ke V Masehi, Pembangunan sekolah Perguruan Tinggi Talmudisme di Alexandreta sebagai kelanjutan dari Perguruan Tinggi Jeshifa di Jabneh sudah selesai. Abad ke VI Masehi Adalah tahap Misionaris ke dalam Sultanah-sultanah, sehingga golongan intelektual Arab sudah siap menjadi kolone 5 (divisi 5) untuk menghancurkan iman = P & S menjadi iman = percaya (sebelum Al Qur’an turun). Perang terbatas antara Romawi dengan Persia Baru, sebagai representasi Blok Barat dan Timur (peristiwa Ashkabul fiil). Tahun 610 – 632 Masehi (tegak Sunnah Muhammad) Dengan Al Qur’an dan Sunnah terwujud model kehidupan indah yang sama sekali tidak sama dengan model Romawi yang menganut paham Naruralisme Makro Atomisme atau Liberalisme Demokrasi, juga tidak sama dengan model Persia Baru yang menganut paham Naturalisme Mikro Atomisme tau Sosialisme Komunis, juga tidak model Kerajaan atau Monarki. Dengan demikian, Muhammad dengan konsep dari Allah yaitu Al Qur’an membangun sebuah pemerintahan yang sangat murni tidak mengadopsi konsep dan pemikiran dari Barat/Romawi, maupun konsep pemikiran dari Timur/Persia Baru (laa syarqiyyah walaa gharbiyyah). Pemerintahan Muhammad yang dicatat oleh sejarah sebagai pemerintahan yang paling bisa memenuhiharapan kemanusiaan, yaitu dapat memenuhi rasa keadilan dan kemakmuran yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan warga negaranya. Keadilan hidup berpolitik, ekonomi, hukum, keamanan, dan keadilan kesejahteraan dan lain-lain, yang dapat dari para pemimpinnya sampai lapisan masyarakat yang paling bawah. Apa yang dimakan oleh para pemimpinnya, itu pula yang dinikmati oleh rakyatnya. Apa yang diderita oleh para pemimpinnya, itu pula yang menjadi perjuangan rakyatnya. Sehingga Madinatul Munawarah adalah benar-benar merupakan sebuah demonstrasi kehidupan indah tiada bandingannya. Pemerintahan Madinah adalah benar-benar merupakan gambar pemerintahan Madani yang ditandai oleh kesatuan semangat hidup suatu bangsa untuk hidup patuh kepada Tuhan-nya. Dengan melalui kepatuhan terhadap Alkitab sebagai konsep pemersatu, maka terwujudlah satu model hidup orang-orang beriman yang saling menghargai,tidak ada klas di antara sesama manusia, tiada perbedaan derajad dan pangkat. Kelompok manusia yang sebelumnya menjadi komunitas kelas atas seperti halnya oleh Abubakar, Usman, Usman, dan yang lainnya diturunkan derajadnya, sedangkan komunitas masyarakat yang paling bawah derajadnya sama dengan budak belian Bilal bin Rabbah diangkat derajadnya menjadi setara dengan para Petinggi Negara. Sehingga gambaran Kemanusiaan yang adil dan beradab benar-benar menjadi kenyataan hidup orang-orang beriman yang tidak dipaksakan. Tidak ada sebutan “Yang Dipertuan Agung”, tidak terdapat panggilan kehormatan “Yang Mulia di sana, akan tetapi semua mendapat predikat “sahabat” atau kawan. Puluhan suku yang bergabung di dalam kelompok Anshar, dan beberapa suku yang bergabung dalam kelompok Muhajirin, menjadi satu komunitas Mu’min. Kelompok Anshar, dan kelompok Muhajirin bersama-sama kelompok dari masyarakat lainnya yang berbeda suku dan agama, seperti halnya komunitas Yahudi dan Nasrani serta Majusi, menjadi satu kesatuan masyarakat Madinah yang saling hormat menghormati, saling mendukung, menjadi sebuah simbiosis mutualis persatuan Madinah sebuah kenyataan persatuan dari berbagai suku dan agama yang tak pernah terbayangkan ratusan tahun sebelumnya. Di dalam catatan para ahli sejarah dunia juga digambarkan, di mana saat itu pula terbentuk sebuah pemerintahan dengan sistem perwakilan (Khalifah=wakil) atau Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Al Qur’an sebagai standar kebijakan dan permusyawaratan. Yang dituang ke dalam undang-undang dasar menjadi apa yang disebut Piagam Madinah saat itu. Dengan adanya sebuah standard book/Alkitab, maka sebuah pemerintahan dapat dikontrol oleh rakyatnya melalui standard book yang sudah disepakati bersama. Dengan demikian maka sejarah mencatat bahwa hanya pada periode Muhammad lah sepanjang adanya peradaban manusia dalam kurun waktu sepeninggal Isa Almasih hingga hari ini, baru bisa tercipta yang namanya Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Madinah sebagai satu negara. Sampai disinilah yang dimaksud oleh Allah sebuah contoh/sample/pola/model/ukura​n atau standar kehidupan indah atau kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang baik itu (lihat Qur’an 33 : 12). Tahun 615 – 624 Masehi Terjadi perang terbuka antara Romawi dan Persia Baru sebagai representasi dari Blok Barat dan Blok Timur, sehingga hancur dengan sendirinya. Tahun 632 – 660 Masehi Masih dalam kelanjutan peradaban indah yang dipraktek Muhammad, dan dilanjutkan oleh empat sahabat yaitu Abubakar Assidiq, Umar bin Khotob, Usman bin Affan serta Ali bin Abithalib. Tahun 661 – 750 Masehi Kebangkitan kembali sistem Feodalisme, atau Aristokrasi Arabisme, yang dibangun oleh Dinasti Mu’awiyah bin Abu Sofyan yang dibantu orang-orang Arab Yahudi Helenisme, antara lain Mansur bin Sarjun, Yosis bin Uthal, John of Damaskus/Johanna, dan istri Mu’awiyah sendiri yang memang Kristen. Sebagai indikasi bahwa Mu’awiyah melakukan praktek sistem Monarki atau Kerajaan adalah sistem suksesi. Dimana pengganti raja haruslah putra mahkota atau kekuasaan kerajaan yang bersifat turun-temurun. Dalam kekuasaan Mu’awiyah kelak dilanjutkan oleh Putra Mahkota-nya yang bernama Yazid bin Mu’awiyah hingga dijatuhkan oleh Abbasiyah di tahun 750 Masehi. Dan pada masa pemerintahan Yazid berkuasa inilah melakukan Ginoside, perburuan dan pembunuhan massal terhadap sisa-sisa Mu’min dan anak cucu Muhammad yang wanita maupun balita. Pada masa ketika Mu’awiyah masih menjabat sebagai Gubernur di Siria/Damaskus, mereka trio Mu’awiyah bin Abu Sopyan, Amr bin Ash, dan Marwan bin Hakam, adalah mahasiswa berpotensi dalam pendidikan Yahudi di Damaskus. Iabarat melakukan kuliah kerja nyata di bawah bimbingan mahaguru Yahudi, mereka mendapat nilai the best Cumlaude dalam bidang ilmu pemutar balikan ajaran Allah, yaitu suatu ajaran yang membimbing manusia dari hidup biadab menjadi beradab. Akan tetapi setelah diputar balikan oleh Yahudi menjadi ajaran Arabisme atau Sarasenisme yang menggiring manusia ke alam khayal nan utopia sehingga menjadi manusia paranoid akan tetapi tetap over confident akan jaminan mendapat surga kendati di dunia merana dan tetap menjadi santapan empuk Yahudi dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian menjadi jelaslah sudah pada masa Mu’awiyah berkuasa inilah masa pengeraman telor-telor Yahudi dan menetas menjadi Feodalisme, Islamisme, yang menyebar ke sepenjuru dunia dan melabrak secara bergelombang ke Indonesia menjadi pengertian yang carut-marut tentang agama Islam di Indonesia kini. Dengan membawa pengertian = kepercayaan dan Islam = agama. Ikhsan =abstraksi, serta sa’ah = rahasia yang dinanti-nanti, sebagai modal untuk memikat umat di sepenjuru permukaan bumi, untuk kemudian dimasukkan ke dalam kerangkeng dunia khayal tanpa bisa berbuat suatu apapun. Inilah tombak berbalut sutra atau musang berbulu ayam yang sangat membius manusia hingga takkan pernah sadarkan diri walau sudah sampai diujung tepi jurang kehancuran sekalipun. Dengan demikian jika dalam sejarah masuknya Islam ke Indonesia disebutkan pada abad ke VII, dan mengujud menjadi kerajaan-kerajaan Islam, dan pengertian “iman = percaya”, islam = agama, di Indonesia, maka bisa dipastikan Islam model inilah yang masuk ke Indonesia, bukan model Muhammad. Tahun 750 – 1258 Masehi Masa kejayaan Dinasti Abbasiyah setelah berhasil menghancurkan Dinasti Mu’awiyah, yang berpusat di Bagdad, menjadi tempat tumbuh dan tempat berkembangnya pohon pengetahuan Yahudi Sarasenisme, dan atau Islamisme. Pada masa Abbasiyah ini “iman = percaya” sudah melanda ke sepenjuru dunia bagaikan badai di padang pasir, yang nyaris membuat Eropa kiamat, dan Yahudi di Eropa berhasil melahirkan pemikiran-pemikiran perusak nan agung untuk memimpin manusia di permukaan bumi menuju jurang kehancuran. Dan jika benar para ahli sejarah di Indonesia mencatat bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada gelombang kedua adalah pada abad ke 9 Masehi bisa dipastikan Islam model inilah yang menjadi guru dan gurunya bangsa Indonesia dalam mengerti agama Islam. Sebagai model yang kedua setelah model yang pertama di abad ke 7 Masehi oleh Dinasti Mu’awiyah bin Abu Sofyan. Yang kemudian disekitar abad ke 14 Masehi barulah disusul Dinasti Osmani dari Kerajaan Turki mengirim ekspedisi perdagangan yang terdiri dari 12 orang dari berbagai negara, berbagai paham dan aliran, untuk datang ke Indonesia, yang kemudian populer dengan sebutan Walisongo sebagai guru dan gurunya bangsa Indonesia dalam mengerti tentang agama Islam sebagai gelombang ketiga. Abad ke 8 – 9 Masehi Pemindahan ilmu pengetahuan Yahudi Yunani tentang Demokrasi dan Humanisme Yahudi ke Eropa. Sarjana-sarjana Yahudi menjadi tamu kehormatan kepala-kepala di Eropa, serta diangkat menjadi Mahaguru di Universitas Naples dan berbagai literatur Yahudi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, dan piperkenalkannya hitungan Arab dan konsep zero ke dalam Matematika. Yahudi berhasilmendudukkan masing-masing agama; Yahudi di Sinagog, Islam di Masjid, Kristen di Gereja, dan Hindu Budha di Kuil, sebagai kerangkeng agama agar tidak mengambil urusan negara, maka dibuatlah semua semua isi ajaran agama apapun menjadi satu fakultas, yaitu fakultas ilmu keakheratan, dan bukan keduniawian. Karl Marx adalah Yahudi yang dipuja oleh lebih satu milyar orang, dan dengan bukunya Das Kapital menjadi kitab sucinya orang-orang komunis se dunia. Albert Einstein adalah Yahudi yang ahli matematika, dan memelopori jaman atom serta membuka jalan naik ke bulan dengan teori fisikanya dlsb. Perang Dunia I menghasilkan peta dunia menjadi dua, yaitu Helenisme dan Sarasinisme.

KRISIS MAKNA HIDUP

Di tengah kondisi yg tdk menentu dan hantaman krisis yg terus menerus, kini Umat Islam bagaikan penumpang kapal yg di amuk oleh ombak dan badai, sehingga oleng ke sana ke mari tanpa ada sesuatu pun yg melindunginya. Sementara di tubuh umat Islam sendiri masih belum terjadi kerjasama dan kekompakan. Rasulullah memberi perumpamaan melalui salahsatu haditsnya, “Perumpamaan orang2 yg berdiri pd batas2 ALLAAH dan yg terjauh melampauinya adalah sprt segerombolan orang yg menumpang sebuah kapal. Sebagian mendapat tempat di bagian atas dan sebagian lagi di bagian bawah. Org2 di bagian bawah apabila membutuhkan air, mrk hrs melewati org2 di bagian atas seraya berkata, ‘Sebaiknya kami lubangi saja pd bagian tempat kami, shg kami tdk menyusahkan org2 di atas kami.’ Apabila mereka yg di atas membiarkan maksud org2 yg di bawah, maka celakalah mereka semua. Namun bila mereka mencegahnya, maka selamatlah mereka dan juga seluruh isi kapal tsb”. (HR Buchari Muslim dan Tarmidzi). Inilah perumpamaan yg mendalam yg di sampaikan Rasulullah, bahwa jika dua kelompok tsb tdk saling mengingatkan, saling mencegah dari perbuatan munkar serta mempertahankan subjektif ego sentrisnya masing2, maka akan karam dan tenggelam. Gambaran di atas menunjukan bahwa perbuatan suatu kelompok dalam tubuh umat Islam, yg melakukan Penodaan dan Penyelewengan, maka semua akan merasakan akibatnya. Julukan spt: Teroris, Fundamentalis, Radikalis, Separatis, Akomodasionis, Islam Kiri, Islam Kanan dll. Betapapun julukan itu merupakan bias dari pandangan Barat (Kaum Orientalis) untuk melecehkan, memecah belah dan menindas umat Islam, namun menunjukan pula antar kelompok Islam tdk terjalin kerjasama dan kekompakan. Bahkan terkesan Individualis dan bergerak sendiri2. Dalam kondisi demikian sampai kapan pun kita akan mengalami keterpurukan ditengah zaman yg terus maju dan berkembang. Beberapa Prediksi Rasulullah: “Islam akan mengalami kelunturan bagaikan lunturnya corak kain. Shg tdk dipahami lagi apa itu fungsi Shaum, Shalat, Hajj dan Shadaqah”. “Kelak tali pengikat Islam akan tanggal satu persatu. Pd saat ikatan yg satu tanggal, maka segera pula org akan menanggalkan yg berikutnya. Yg pertama adalah Norma Hukum dan terakhir adalah Shalat”. “Kelak kamu akan mengalami keadaan bagaikan hidangan yg dikerubuti org lapar. Rasul ditanya: apakah krn sedikitnya jmlh umat Islam pd waktu itu? Tidak! Bahkan jumlah kalian banyak. Namun jumlah tersebut tak ubahnya buih air bah. Musuh2 kamu tdk lg gentar thdp kamu, justru kamulah yg di timpa kehinaan. Sahabat bertanya: apa faktor penyebabnya? Yaitu: Cinta Dunia dan Takut Mati”. “Kelak akan datang suatu zaman atas umatku tdk adalah IMAN itu kecuali pengakuannya saja, dan tdk adalah ISLAM itu kecuali namanya saja, begitu tdk adalah ALQURAAN itu kecuali tinggal tulisannya saja, dan bangunan masjid2nya indah megah yg isinya kosong dari petunjuk ALQURAN wa Sunnah Rasul, begitu pula Ulama2nya sejahat2nya makhluk di bawah langit, dari mereka itulah keluarnya berbagai fitnahan dan kpdnyalah fitnah itu akan berbalik”. “Sebagian dari tanda2 kehancuran alam semesta adl diangkatnya ILMU, munculnya kebodohan, merajalelanya perjinahan, banyaknya pemabuk dan semakin berkurangnya jumlah laki2, shg antara laki2 dan perempuan satu berbanding limapuluh”. “Sungguh kelak kalian benar2 akan mengikuti jejak langkah manusia sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta, shg jikalaulah mrk memasuki sarang serigala pasti kalian akan memasukinya. Bertanya para Sahabat: siapakah mereka itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: mrk adl Yahudi dan Nasrani. Bertanya lg para Sahabat: bagaimana jalan keluarnya? Rasulullah menjawab: aku tinggalkan utk kehidupan kalian dua pegangan hidup, apapun selama kalian memegang teguh trhdp keduanya itu kalian tdk akan hidup sesat selamanya. Dia adalah: Kitab ALLAAH (ALQURAN) wa Sunnah Rasul”. BERSAMBUNG!

Senin, 01 Agustus 2011

RAMADHAN, AL - QURAN, DAN SHALAT

Ramadhan, Al-Qurãn, Dan Shalat


Bulan Ramadhan disebut Rasulullah sebagai bulan yang agung dan penuh berkah (manfaat), dan ditegaskan Allah dalam surat Al-Baqarah 185 sebagai “bulan penurunan Al-Qurãn”. Tentu yang dimaksud adalah penurunan sejumlah ayat Al-Qurãn untuk pertama kali, karena Al-Qurãn secara keseluruhan diturunkan dalam waktu sekitar 23 tahun, yaitu sejak turunnya 5 ayat surat Al-‘Alaq pada tanggal 17 Ramadhan, bertepatan dengan 6 Agustus tahun 610 Masehi, sampai menjelang Rasulullah wafat (12 Rabi’ul-Awwal; 8 Juni tahun 632 M). Menurut penegasan Allah dalam surat Al-Qadr, Al-Qurãn turun pertama kali di malam hari, dan saat penurunannya itu disebut sebagai lailatul-qadr. Sedangkan dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 malam itu disebut sebagai lailatin mubãrakatin (bisa dibaca: laillah mubãrakah). Dalam surat Al-Baqarah 185 pula, ditegaskan bahwa Al-Qurãn diturunkan dengan tiga fungsi, yaitu:Sebagai pedoman hidup bagi manusia (هدى للناس);Penjelasan (tafsir) bagi Al-Qurãn itu sendiri (بيّنات من الهدى); danPemilah antara konsep (ajaran) yang benar dan konsep yang salah (فرقان). Ketiga fungsi tersebut satu sama lain saling berkaitan dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Uraian singkatnya adalah sebagai berikut: Al-Qurãn sebagai pedoman hidup Al-Qurãn diturunkan melalui seorang lelaki berhati bersih, yang sangat prihatin dengan keadaan bangsanya serta bangsa-bangsa di sekitarnya, yang hidup dalam keadaan saling bermusuhan, tindas menindas, dan cenderung memperbudak pihak yang lemah. Padahal, mereka mengakui sebagai bangsa-bangsa bertuhan dan beragama. Suku-suku Yahudi yang tinggal di Yatsrib, misalnya, jelas mengaku bertuhan Allah dan membanggakan Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sebagai bapak moyang dan rasul-rasul yang diutus Allah kepada mereka. Bangsa Arab sendiri, khususnya suku Quraisy yang tinggal di Makkah, juga mengaku sebagai pelaksana agama Ibrahim dan Isma’il. Selain itu, di sekitar mereka ada bangsa Rumawi yang beragama Nasrani (Kristen), dan ada bangsa Persia yang beragama Majusi. Kebobrokan bangsa Arab, serta bangsa-bangsa di sekitarnya, membuat lelaki itu amat sangat prihatin, dan selalu gelisah, sehingga akhirnya ia sering menyepi di Goa Hira, sebuah goa yang terletak di sebuah gunung di sebelah utara, sekitar 6 km dari kota Makkah. Konon, lelaki ini selama beberapa tahun, selalu menyepi di goa tersebut sepanjang bulan Ramadhan. Sampai akhirnya, suatu malam, ia dibangunkan oleh Malaikat Jibril yang kemudian mengajarkan Al-Qurãn. Lelaki itu, Nabi Muhammad saw, akhirnya merasa lega dan gembira, karena konsep hidup yang dirindukannya itu telah diajarkan kepadanya oleh Allah, pencipta manusia dan alam semesta. Al-Qurãn sebagai pedoman hidup dari Allah digambarkan oleh beliau dengan kata-kata sebagai berikut: …Keunggulan Kalãmullãh (Al-Qurãn) dibandingkan seluruh kalam (kitab-kitab; buku-buku karangan manusia) adalah seperti keunggulan Allah dibandingkan dengan seluruh makhlukNya. (Hadis riwayat Tirmidzi).[1] Selain itu, kata beliau pula: Telah diberikan (diajarkan) kepadaku As-Sab’u Thuwal (tujuh surat panjang) sebagai pengganti Taurat, dan Al-Mi’în (surat-surat 100 ayat) sebagai pengganti Zabur, dan Al-Matsãnî (surat-surat yang mengandung perulangan tema) sebagai pengganti Injil, dan aku diberi tambahan dengan Al-Mufasshal (penjelasan, uraian yang mengingatkan tentang sorga dan neraka). (Hadis riwayat Ahmad).[2] Melalui Hadis ini kita mendapat informasi yang sangat berharga; yang mene-gaskah bahwa sebelum menurunkan Al-Qurãn kepada Nabi Muhammad, Allah pernah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa, kitab Zabur kepada Nabi Daud, dan kitab Injil kepada Nabi Isa, sebagai pedoman hidup. Tapi bangsa Yahudi telah melakukan taktum[3] (menggelapkan) atau yuharrifuna[4] (memutar balik; mengacaukan) kitab-kitab tersebut. Kitab-kitab Taurat dan Zabur mereka ‘sulap’ menjadi kitab Perjanjian Lama, dan kitab Injil dijadikan kitab Perjanjian Baru. Yang disebut kitab Perjanjian Lama itu sebenarnya bukan sebuah kitab (buku) tapi mencakup 45 buku; dan Perjanjian Baru mencakup 27 buku.[5] Mungkin karena itulah – antara lain – bangsa Yahudi dijuluki sebagai ahlul-kitãb, jawara alias jagoan menulis kitab; yang dengan kitab-kitab itu mereka melenyapkan atau mengaburkan kitab-kitab Allah. Jadi, melalui Al-Qurãn, Allah memunculkan kembali kitab-kitabNya yang sudah dihilangkan Yahudi, dalam kemasan atau susunan yang baru. Kitab ini, Al-Qurãn, ditegaskan oleh Allah sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi seluruh manusia, bukan hanya untuk bangsa Arab. Al-Qurãn menafsirkan diri sendiri Ada sebuah hadis atau perkataan ulama yang berbunyi begini: “Sebenarnya bagian-bagian (surat, ayat) Al-Qurãn itu satu sama lain saling menafsirkan.”[6] Pernyataan ini agaknya hendak menegaskan pernyataan Allah sendiri dalam surat An-Nur ayat 1, bahwa Al-Qurãn berisi ayat-ayat yang saling menafsirkan (men-jelaskan). Pembuktian dari pernyataan itu tentu tidak akan kita ketahui bila kita tidak membacanya dalam bahasa aslinya dalam keadaan kita memahami kata demi kata. Membaca sambil memahaminya kata demi kata pun belum cukup, bila kita belum melakukannya secara sungguh-sungguh dan berulang-ulang, sambil memper-hatikan penggunaan kata-kata, susunan ayat-ayat, hubungan satu tema dengan tema-tema lain, juga kaitan antara satu surat dengan surat-surat yang lain. Al-Qurãn adalah ibarat jutaan helai benang warna-warni yang ditenun menjadi sehelai kain yang indah. Tepatnya, ‘jutaan helai benang’ itu adalah informasi-informasi yang disusun Allah sedemikian rupa, membentuk sebuah konsep (gagasan) yang utuh dan menarik. Anda mungkin memiliki dan mengagumi sehelai kain yang dihiasi lukisan batik karya Amri Yahya. Coba bayangkan, apa yang terjadi bila helai demi helai benang dari kain itu dicabuti? Lukisannya yang indah akan lenyap, dan benang-benangnya akan beterbangan, atau menyatu jadi segulung benang kusut. Begitu juga halnya Al-Qurãn, bila informasi-informasinya ‘dicabuti’ secara sembarangan, lalu ditebarkan secara acak. Keutuhan dan keindahannya pasti lenyap. Karena itulah, Allah berpesan wanti-wanti agar kita jangan memperlakukan wahyunya seperti seo-rang wanita penenun mengacak-acak sendiri hasil karyanya: …Janganlah kalian berlaku seperti seorang wanita (penenun) yang mengacak-acak benang yang semula telah disusunnya menjadi tenunan yang kuat …(An-Nahl ayat 92). Al-Qurãn memilah benar dan salah Untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah, Allah memberikan gambaran demikian: Tantanglah (Muhammad), “Siapa di antara konco-konco kalian yang meng-arahkan kalian kepada kebenaran?” Tegaskan (kepada mereka), “Hanya Allah yang mebimbing kepada kebenaran. Dia yang membimbing pada kebenarankah, atau orang yang hanya dapat petunjuk karena diberi petunjuk – yang lebih berhak diikuti? Ada apa dengan kalian? Bagaimana cara kalian menimbang? (Yunus ayat 35). Melalui ayat ini Allah menegaskan kepada setiap manusia yang merasa berakal sehat bahwa sumber kebenaran itu adalah Allah sendiri; sedangkan manusia hanya mengetahui kebenaran bila diberi tahu oleh Allah, melalui penurunan wahyu. Karena itulah, wahyu Allah harus dijadikan tolok ukur untuk memilah (membedakan dan memisahkan) mana yang benar dan mana yang salah. Lebih jauh, bila kita sudah mendalami Al-Qurãn, kita akan merasakan sendiri bagaimana cara Allah membimbing kita untuk benar-benar melakukan pemilahan tersebut. Cara Allah membimging itu bukan hanya logis (masuk akal), tapi juga sangat menyentuh perasaan, sehingga manusia yang berhati batu pun – bila mampu memahami – pastilah bakal menjatuhkan diri di tanah, untuk bersujud sambil mena-ngis! Shalat sebagai sarana Qurãnisasi Tahukah anda bahwa Allah dan malaikat juga melakukan ‘shalat’ terhadap Nabi dan orang-orang beriman? Perhatikanlah ayat di bawah ini! إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(56) Sesungguhnya Allah, melalui malaikatNya, bershalat kepada Nabi (Muhammad). Wahai orang-orang beriman, bershalat lah kalian kepadanya (Nabi Muham-mad), yakni pasrahkanlah diri kalian (kepada Allah) sepasrah-pasrahnya. Ayat ini benar-benar menegaskan kepada kita bahwa Allah dan malaikat sama-sama melakukan shalat terhadap Nabi Muhammad dan orang-orang beriman, namun bukan shalat dalam arti shalat seperti yang kita lakukan setiap hari. Pada ayat ini ada kata yushallûna dan shallû, yang berpangkal pada kata kerja shallã. Masdar (akar kata; kata benda bentukan) dari shallã adalah shalat(an), dan jamaknya adalah shalawãt. Apa arti shalat? Dalam sebuah Hadis, Rasulullah menyatakan: ash-shalatu hiyad-du’ã’ (shalat itu – pada hakikatnya – adalah doa). Lantas, apa arti doa? Doa bisa berarti permintaan, permohonan; harapan; cita-cita; obsesi, dan bisa juga berarti ajakan, himbauan, dan sebagainya (= da’wah). Dengan demikian, jelaslah bahwa shalat (atau jamaknya shalawat) dalam ayat di atas bukanlah shalat dalam pengertian ‘ibadah ritual’ yang biasa kita lakukan. Shalat dalam ayat tersebut adalah “shalat dalam arti umum”, karena mencakup Allah, malaikat, Nabi, dan orang-orang beriman. Melalui ayat ini, kita menadapat informasi bahwa Allah ‘menitipkan’ harap-anNya kepada orang-orang beriman, melalui malaikat Jibril, agar orang-orang beriman itu benar-benar pasrah terhadapNya, dengan cara meneladani Nabi Muham-mad saw. Bentuk konkret (nyata) dan utuh dari harapan Allah itu adalah Al-Qurãn itu sendiri. Jadi, dengan menyambut Al-Qurãn, berarti kita menyambut harapan Allah. Dan – ternyata! – cara menyambut Al-Qurãn yang terbaik adalah dengan melakukan shalat ritual. Bagaimana penjelasannya? Dalam shalat ritual, apakah ia disebut shalat fardhu atau sunnah, yang menjadi bacaan pokoknya adalah Al-Qurãn, terutama surat Al-Fãtihah, yang merupakan induk atau pokok Al-Qurãn (ummul-qurãn; ummul-kitãb). Setelah membaca surat Al-Fãtihah, kita pun membaca surat-surat lain yang kita hafal. Sebuah Hadis menegaskan agar kita shalat dengan mengikuti cara Rasulullah saw.[7] Bagaimana cara Rasulullah shalat? Sebuah Hadis menyebutkan bahwa kaki beliau sering menjadi bengkak karena shalat. Mengapa? Mungkin hal itu terjadi – menurut Hadis yang lain, karena beliau sering berdiri lama berdiri dalam shalat. Seberapa lama? Sebuah Hadis lain menyebutkan bahwa suatu ketika beliau membaca – setelah Al-Fãtihah – surat Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa, Al-Ma’dah, dan Al-An’am (seluruhnya 947 ayat!) dalam satu raka’at. Hal itu dilakukan beliau dalam shalat malam di bulan Ramadhan. Karena itulah – mungkin – Rasulullah tidak pernah memimpin shalat malam di masjid, karena umatnya tidak akan sanggup mengikuti. Tapi, meskipun kita tidak akan bisa (?) berbuat seperti Rasulullah itu, apa yang dilakukan Rasulullah itu jelas mengandung pesan agar kita – dalam shalat-shalat kita – tidak membaca surat-surat pendek melulu seumur hidup. Kita harus berusaha agar banyak surat – bila tidak seluruh surat – dalam Al-Qurãn sempat kita baca dalam shalat. Itulah pembuktian bahwa kita mengakui bahwa Al-Qurãn sebagai kitab yang paling unggul dibandingkan kitab-kitab karangan manusia. Dan dengan cara demikian itulah kita – sebenarnya – berusaha melakukan Qurãnisasi kesadaran. Yaitu memben-tuk kesadaran dengan Al-Qurãn. Itulah yang pasti menjamin kita menjadi manusia-manusia bermutu menurut Allah. Semoga kita termasuk manusia demikian. Ãmîn, ya Rabbal ãlamîn! [1] … فَضْلُ كَلاَمِ اللهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ. [2] حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ الْقَطَّانُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ الْهُذَلِيِّ عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ الطُّوَلَ وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ. [3] Surat Al-Baqarah ayat 42: وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ(42) [4] Surat An-Nisa ayat 46: مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا (46) [5] Awal Persahabatan dengan Kitab Suci, hal. 9, cetakan pertama, Kanisius, 1995. [6] إن القرءات يفسّر بعضه بعضا. [7] Kata Hadis: shallû kamã ra-aitumuniî ushallî (shalatlah kalian sebagaimana kalian menyaksikan aku shalat)