Minggu, 23 Oktober 2011

CONTOH PERBEDAAN BENTUK KATA DALAM TATA BAHASA ARAB DAN TATA BAHASA AL-QURAN



masih pada SURAT ANNAHL(16;51)وَقَالَ اللّهُ لاَ تَتَّخِذُواْ إِلـهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلهٌ وَاحِدٌ فَإيَّايَ فَارْهَبُونِ
Waqaala llaahu la tattakhidzuu ilaahaini tsnaini innamaa huwa ilaahun waahidun faiyyaaya fa irhabuuni

pada kata إِلـهَيْنِ اثْنَيْنِ -ilaahaini tsnaini secara bahasa merupakan kata benda bilangan berjumlah dua dengan kaedah pengulangan uslub. sejauh penelitian danjangkauan kemampuan saya, kaedah ini hanya berlaku didalam alquran menurut pembuktian sunnah rasulnya dan tidak berlaku dalam kaedah tata bahasa arab. Jadi sesuai janji saya memberikan contoh bukti perbedaan tata bahasa arab dan tata bahasa alquran kita bisa lihat kaedah pengulangan uslub tersebut yang tidak terdapat dalam kitab kitab nahwu seperti:
1. buku a zakaria di hal 179.
2.  alfiyyah jilid 2 hal 642-651
3. buku karangan drs. djawahir djuha, "tatabahasa arab (ilmu nahwu)" yang merupakan "terjemah matan al-ajrumiyah" berikut penjelasannya, halaman 117
4. buku "al nahwul wadlih" jilid 3 diterjemahkan oleh drs ismail, diterbitkan putra almaarif surabaya. di halaman 289
5. Buku "Tata Bahasa Arab - untuk mempelajari Al qur'an" karangan H salimudin A Rahman MA terbitan sinar baru algesindo hal 191-193
6. Buku "Tata Bahasa Arab Sistematis" karangan Dr. H. Imaduddin Sukamto,MA dan Akhmad Munawari S.Ag terbitan Nurma Media Idea, halaman 122-124.

buku buku tersebut hanya membahas seputar isim mutsanna yang tidak menggunakan perulangan uslub seperti contoh:
jannataani - dua surga (qs 55:62)
walidaihi - dua orang ibu bapa (qs 31:14)
'aamaini - dua tahun (qs 31:14)
rojulaini - dua orang laki-laki (qs 18:32)
fatayaani - dua pemuda (qs 12:36)

Dari itu mungkin referensi rujukan tersebut kalo Alquran masih diakui sebagai referensi tersahih kesempurnaan tata bahasanya, Maka kalau boleh kita tambahkan ragam ragam penggunaan kata benda jumlah bilangan seperti berikut ini:
bentuk jumlah 1
اِلٰهٌ وَاحِدٌ -ilaahun waahidun =1 ilah
اِلٰهٌ -ilaahun --->bentuk tunggal <->maushuf.
وَاحِدٌ waahidun-->bentuk tunggal <->shifah.

bentuk jumlah 2
اِلٰهانِ اثْنَانِ-ilaahaanitsnaani =2 ilah
اِلٰهانِ-ilaahaani --->menggunakan bentuk jumlah 2 <->maushuf.
اثْنَانِ-itsnaani------>menggunakan bentuk jumlah 2 <->shifah.

bentuk jenis jumlah jamak tidak terikat
ءالِهَةً أُخرىٰ-aalihatun ukhraa=banyak ilah.

bentuk jumlah 3 -10
ثَلٰثَةُ أَيّامٍ-tsalaatsatu ayyaamin = 3 hari
ثَلٰثَةُ-tsalaatsatu--->menggunakan tunggal feminim <-> mudhaf.
أَيّامٍ-ayyaamin--->menggunakan jamak <->mudhaf ilaihi.

Bentuk jenis jumlah 11-99
أَرْبَعُوْنَ لَيْلَةٌ-arba`uuna lailatun= 40 malam
أَرْبَعُوْنَ-arba`uuna-->menggunakan bentuk jamak<->maushuf
لَيْلَةٌ-lailatun--->menggunakan bentuk tunggal feminim <->shifah.

Bentuk jumlah 100 keatas
ثَلٰثُ مِا۟ئَةٍ سِنِيْنَ-tsalaatsu mi atin siniina= tiga ratus tahun.

ثَلٰثَةُ ءَالٰفٍ-tsalaatsatu aalaafin=3000

أَلْفُ شَهْرٍ-alfu syahrin = 1000 bulan

Potongan potongan ayat diatas dapat kita maklumi kalau Allah menggunakan bentuk jenis jumlah isimnya dengan menggunakan pasangan / gandengan isimnya baik ada yang pasangan / gandengan shifah maushuf maupun pasangan / gandengan majemuk(mudhaf mudhaf ilaihi) dan masing masing pasangan memiliki ciri ciri khusus.

Maka fungsi lafadzh itsnaini adalah sebagai pasangan /gandengan bagi isim ilaahaini gunanya untuk menunjukkan makna "2buah isim" dan memberi pelajaran / contoh kepada pembaca bagaimana cara melafadzhkan makna 2buah isim menurut alquran.

Note: Sistimatik diatas perlu diuji kembali kebenarannya.

 ·  ·  · 01 Oktober jam 22:52

    • Khoiron Ghazali Kang Adam Arasyi,

      Nahwu menempatkan al-Qur’an sebagai RUJUKAN UTAMA, kemudian hadis dan syair-syair.
      Tentang ‘adad dan ma’dud rata-rata kitab mengupasnya secara ‘SAMBIL LALU’ tapi ada juga yang meletakkannya pada bab khusus seperti pada kitab al-Mu’jam Fii Qawaid al-Lughat al-‘Arabiyyah.
      Penjelasannya begini:
      Isim ’adad (اسم العدد) adalah isim yang menunjukkan jumlah dan bilangan dari sesuatu. Isim ’adad digunakan selalu bersama-sama dengan sesuatu dan benda yang dihitung (ma’dûd ) dalam segala jumlah, kecuali untuk tujuan berlatih atau sebagai rumus yang terpisah.
      Pembahasan ‘adad kerap terkait pada bab Tamyiz dan sebagian kecil Na’t-man’ut
      Macam ‘adad
      1. ’Adad Asli /cardinal number(TS antum 'menggugat' yang 'ADAD ASHLI INI): adalah jumlah sebenarnya dari sesuatu yang dihitung (ma’dûd). Misalnya: ثَلاَثَةُ كُتُبٍ = tiga kitab. Artinya ’adad 3 menunjukkan bahwa kitab berjumlah tiga. ثَلاَثَةُ adalah ’adad dan كُتُبٍ adalah ma’dûd.
      Hubungan adad ashli antara ’adad dan ma’dûd memiliki 5 bentuk:(1) ’Adad mufrad (1-2, contoh : رَجُلٌ وَاحِدٌ/اِمْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ //رَجُلاَنِ اثْنَانِ/اِمْرَأَتَانِ اثْنَتَانِ Dan 3-10, contoh : ثَلاَثَةُ رِجَالٍ// ثَلاَثُ فَتَيَاتٍ/ثَلاَثُ نِسَاءٍ وَأَعْبُدٍ), (2) ’Adad murakkab Mazji (11 – 19), (3) ’Adad ma’thûf (21 –99 tidak termasuk puluhan), (4) ’Adad ’uqûd (puluhan), (5)’Adad idhâfat (untuk ratusan, ribuan, jutaan, milyaran)
      2. ’Adad Tartîb/ordinal number (العدد الترتيب) : ’Adad tartîb adalah bilangan urutan dan peringkat: الأوَّلُ: ke-1, الثَّانِي: ke-2, الثَّالِثُ: ke-3. ’Adad tartîb memiliki 12 lafazh: (1) أَوَّلٌ (2) ثَانٍ (3) ثَالِثٌ (4) رَابِعُ (5) خَامِسٌ (6) سَادِسٌ (7) سَابِعٌ (8) ثَامِن (9) تَاسِعٌ (10) عَاشِرٌ (11) مِئَةٌ (12) أْلْفٌ. Dalam seluruh ’adad tartîb, ma’dûd selalu sama dengan ’adad dari sisi mudzakkar dan mu’annats.

      Dalam kaitan dengan sifat-mawshuf/na’t-man’ut: ‘adad termasuk isim yang tidak bisa MENJADI SIFAT, tetapi bisa MEMBERI SIFAT, yaitu dengan cara dita’wil. Misalnya: رَكَبَ الأَوْلاَدُ الثَّلاَثَةُ السيارةَ ta’wilnya: الْمَعْدُوْدُ بالثَّلاَثَة.

      Mohon dikoreksi kalo ada yang salah.

      Sumber: ENSIMINI NAHWU-SHARF

      02 Oktober jam 9:49 · 

    • Adam Arasyi terima kasih. Sementara saya tampung dulu ya...
      3 jam yang lalu · 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar