Kamis, 04 Agustus 2011

FAKTOR - FAKTOR PERGESERAN ( DISTORSI ) IMAN

Surat 003 Ali Imran 137-148 mensinyalir faktor pergeseran sejarah Iman sepeninggalan Nabi Muhammad SAW, demikian :





















Qad khalat min qablikum sunanun fa siiruu fil ardhi fan zhuruu kaifa kaana 'aaqibatul mukadzdzibiin





Artinya :





137. “Sungguh, sebelum kalian (Muhammad SAW, telah berlaku corak ragam perjalanan sejarah. Maka coba, jejalahi sepenjuru permukaan bumi ini sehingga lihatlah betapa akibatnya yang hidup melacur Nur-dzulumat ms syayathin”.





137. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

















Haadzaa bayaanul lin naasi wa hudaw wa mau'izhatul lil muttaqiin





Artinya :





138. “Al-Qur’an ms Rasul ini adalah satu pembuktian Ilmiah untuk kehidupan manusia yakni satu pedoman hidup yaitu satu ajaran bagi yang hidup patuh tanpa tedeng aling-aling”.





138. (Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.



















Wa laa tahinuu wa laa tahzanuu wa an-tumul a'launa in kuntum mu'miniin





Artinya :





139. “Maka kalian atas pilihan Nur ms Rasul ini, jangan merasa rendah diri juga jangan berkecil hati. Sebaliknya kalian dengan al-Qur’an ms Rasul ini, adalah diatas segala jikalaulah kalian itu benar-benar hidup berpandangan dan bersikap menurut yang demikian”.





139. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

























Iy yamsaskum qarhun fa qad massal qauma qarhum mitsluhuu wa tilkal ay-yaamu nudaawiluhaa bainan naasi wa li ya'lamallahul ladziina aamanuu wa yattakhidza minkum syuhadaa-a wal-laahu laa yuhibbuzh zhaalimiin





Artinya :





140. “Jikalaulah kalian, atas pilihan Nur ms Rasul ini, mengalami satu cacat niscaya yang demikian itu telah pernah mengenai bangsa mana saja. Yang demikian itu adalah corak ragam perjalanan sejarah yang Kami (Allah), atas satu pilihan Ilmu, memberi giliran diantara manusia. Yaitu guna Allah, dengan satu ajaran ms Rasul-Nya, meng-Ilmu-I mereka yang hidup berpandangan dan bersikap menurut demikian, yaitu Dia membikin diantara kalian menjadi pejuang dimedan laga. Dan Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, tidak menyukai pendukung dzulumat ms sy”





140. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,

















Wa li yumahhishallaahul ladziina aamanuu wa yamhaqal kaafiriin





Artinya :





141. “Yaitu guna Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, menyaring mereka yang benar-benar hidup berpandangan dan bersikap dengan satu ajaran ms Rasul-Nya dan menghancurkan mereka yang atas pilihan dz ms syayathin, bersikap negatif terhadap yang demikian”.





141. dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.





















Am hasibtum an tadkhulul jannata wa lammaa ya'lamillaahul ladziina jaahaduu minkum wa ya'lamash shaabiriin





Artinya :





142. “Apakah kalian, atas pilihan Nur ms Rasul, mengira bahwa kalian akan memasuki tahap kehidupan yang bagaikan Taman Merindang kepuasan sebelumnya Allah memberikan kepastian Ilmiah ms Rasul-Nya diantara kalian yang sungguh-sungguh memperjuangkan yang demikian lagi yang teguh bertahan dalam keadaan yang bagaimanapun gentingnya?!”.





142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.



















Wa la qad kuntum tamannaunal mauta min qabli an talqauhu fa qad ra-aitu-muuhu wa antum tanzhuruun





Artinya :





143. “Dan sungguh benar kalian, atas pilihan Nur ms Rasul, sebelumnya bercita-cita sampai tetesan darah penghabisan akan mendukungnya. Akhirnya kalian telah menyaksikan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya dan akan terus menerus menyaksikan”.





143. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya.























Wa maa muhammadun illaa rasuulun qad khalat min qablihir rusulu a fa im maata au qutilan qalabtum 'alaa a'qaa-bikum wa may yanqalib 'alaa 'aqibaihi ; fa lay yadhurrallaaha syai-aw wa sa yaj zillaahusy syaakiriin





Artinya :





144. “Tidak ada kehidupan Muhammad itu (dalam dakwah al-Qur’an ms Rasul) kecuali patron kehidupan dari ajaran Allah yang sungguh sebelumnya telah berlaku berbagai sunnah Rasul. Maka apakah, jika dia telah mati atau terbunuh dimedan perang, niscaya kalian yang telah menyatakan memilih Nur ms Rasul balik kembali atas satu sistem sosial yang telah pernah menjerat kalian?!. Maka siapapun yang balik kembali atas sistem sosial yang telah penah menjeratnya itu niscaya yang demikian itu tidak saja akan merusak ajaran Allah ms Rasul-Nya menjadi sesuatu yang lain (malah merusak kehidupannya sendiri). Dan Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya akan memberikan imbalan kehidupan hasanah hanya bagi yang hidup merunduk menurut yang demikian”.





144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

























Wa maa kaana li nafsin an tamuuta ilia bi idznillaahi kitaabam mu-ajjalaw wmay yurid tsawaabad dun-yaa nu'tih minhaa wa may yurid tsawaabal aakhira nu' tihii minhaa wa sa najzisy syaakiriii





Artinya :





145. “Tidak adalah bagi setiap diri kecuali agar dia, atas satu pilihan Ilmu menyudahi hidupnya menurut izin Allah (alternatif Nur ms Rasul dan atau dzulumat ms syayathin) sebagai pembukuan diri yang merupakan kemungkinan gerak dalam satu ruang tertentu (ajal) didunia ini (untuk mendapat satu kebangkitan diakhirat kelak). Maka siapa yang atas pilihan dzulumat ms syayathin, mengingini imbalan kehidupan dari lingkungan dunia (defect atau reflect) niscaya Kami (Allah) akan mengujudkannya menjadi demikian. Sebaliknya siapa yang, atas pilihan Nur ms Rasul, mengingini imbalan kehidupan terakhir niscaya Kami (Allah) akan mengujudkannya menjadi demikian pula. Yaitu Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, kelak akan memberikan suatu imbalan bagi yang hidup merunduk menurut yang demikian”.





145. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.























Wa ka ayyim min nabiyyin qaatala ma'ahuu ribbiyyuuna katsiirun fa maa wahanuu li maa ashaabahum fii sabiilil-laahi wa maa dha'ufuu wa mas takaanuu wallaahu yuhibbush shaabiriin





Artinya :





146. “Dan betapa dari setiap nabi, yang atas pilihan Nur ms Rasul-Nya itu, bertempur bersamanya berdivisi-divisi yang demikian banyaknya. Akhirnya mereka itu tidak pernah merasa lelah, juga tidak merasa hina. Maka Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, mencintai yang teguh bertahan dalam keadaan yang bagaimanapun gentingnya”.





146. Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.



















Wa maa kaana qaulahum illaa an qaaluu rabbanagh fir lanaa dzunuubanaa wa is-raafanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaa-manaa wan shurnaa 'alal qaumil kaafi-riin





Artinya :





147. “Dan tidak ada jawab mereka yang demikian itu kecuali menyatakan :”Wahai pembimbing kami maka, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul ini, revolusikanlah diri kami yang hidup serba salah yakni kehidupan rakus oleh permainan dz ms syayathin disepenjuru pelaksanaan hidup kami. Dan kukuhkanlah derap kehidupan kami atas pilihan Nur ms Rasul. Akhirnya, atas pilihan Nur ms Rasul ini, menangkanlah kami terhadap bangsa yang atas pilihan dz ms syayathin, bersikap negatif terhadap yang demikian”.





147. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".



















Fa aataahumullaahu tsawaabad dun-yaa wa husna tsawaabil aakhirati wallaahu yuhibbul muhsiniin





Artinya :





148. “Maka Allah, atas pilihan Nur ms Rasul-Nya, mengujudkan mereka yang demikian menjadi imbalan kehidupan hasanah di dunia dan di akhirat kelak. Dan Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, mencintai yang bertujuan hidup ihsan”.





148. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.





Dari petikan ayat-ayat diatas, terutama pada ayat 144, kenyataan sejarah menjawab bahwa begitu Nabi Muhammad wafat maka serentak massal manusia yang telah menyatakan diri muslim berubah menjadi murtad dengan satu pemberontakan terhadap Madinah Munawwarah.





Namun dengan masih adanya “sekelompok kecil yang Iman-Nya membara”maka kesetimbangan sosial dari Madinatul Munawwarah tetap berjalan dalam garis Iman yang sebenarnya.





Surat 110 An Nashr ayat 1 – 3 menjelaskan Futuh Makkah menjadi sumber penyusupan kebodohan massal terhadap Nur ms Rasul yang merusak Iman, demikian :

















Idzaa jaa-a nashrullaahi wal fat-h





Artinya :





1.“Bila ajaran Allah (al-Qur’an ms Rasul-Nya) telah berujud menjadi satu kemenangan hidup yakni satu kemenangan patah”.





1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.

















Wa ra-aitan naasa yadkhuluuna fii diinil-laahi afwaajaa





Artinya :





2. “Maka lihatlah, pembuktian al-Qur’an ms Rasul, massal manusia akan menyusup kedalam penataan hidup dari ajaran Allah (Dinul Islam) ms Rasul-Nya”.





2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,

















Fa sabbih bi hamdi rabbikawastaghfirhu innahuu kaana tawwaabaa





Artinya :





3. “Maka dakwahlah al-Qur’an ms Rasul ini untuk menjadi penyanjung hidup menurut ajaran pembimbing anda (Muhammad SAW), yakni tuntutlah satu perubahan diri kearah satu kehidupan menurut yang demikian. Sesungguhnya Dia (Allah), dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, Pembina taubat tiada tara”.





3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.





Memenuhi doa Nabi Ibrahim maka Surat 12 Yusuf ayat 2 menegaskan bahwa al-Qur’an ms Rasul diturunkan ditengah-tengah suku bangsa Arab. Dari itu maka sikap orang-orang arab seumumnya merupakan salah satu faktor penting diantara berbagai faktor yang menentukan sejarah perkembangan ..................”.





Dengan demikian maka faktor massal manusia akan menyusup kedalam penataan hidup dari ajaran Allah (Dinul Islam) ms Rasul-Nya” pada tingkat pertama, mau tidak mau, berkaitan langsung dengan “Sikap orang-orang arab seumumnya”.





Surat 049 Al Hujurat ayat 14-18 melukiskan sikap orang-orang arab ketika itu, demikian:

























Qaalatil a'raabu aamannaa qui lam tu'-minuu walaakin quuluu aslamnaa wa lammaa yadkhulil iimaanu fii quluubi-kum wa in tuthii'ullaaha wa rasuulahuu laa yalitkum min a'maalikum syai-an innallaaha ghafuurur rahiim





Artinya :





14. “Orang-orang arab (Jahiliyah) berkata : “Kami ber-Iman”, jawab = “Kalian tidak hidup berpandangan dan bersikap dengan al-Qur’an ms Rasul”. Sebaliknya katakan saja : “Kami menyerah untuk hidup dengan Islam satu-satunya penataan” dalam arti Iman belum mantap dihati kalian. Sebaliknya jikalau kalian hidup patuh dengan ajaran Allah ms Rasul-Nya niscaya Dia (Allah), dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, tidak akan mengurangi sesuatu dari hasil usaha kalian. Sesungguhnya Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, adalah maha revolusiner lagi pemberi kepastian menurut pilihan masing-masing”.





14. Orang-orang Arab Badwi itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".























Innamal mu'minuunal ladziina aamanuu billaahi wa rasuulihii tsumma lam yartaa-buu wa jaahaduu bi amwaalihim wa an-fusihim fii sabiilillaahi ulaa-ika humush shaadiquun





Artinya :





15. “Sebenarnya mukmin itu adalah yang hidup berpandangan dan bersikap dengan ajaran Allah ms Rasul-Nya, selanjutnya mereka tidak mengada-adakan. Dan mereka sepenuh hati berjuang mempertaruhkan segala harta benda dan diri mereka sendiri dalam menegakkan sistem hidup (Dinul Islam) dari ajaran Allah ms Rasul-Nya. Demikianlah mereka yang benar-benar ber-Iman”.





15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.



















Qui a tu'allimuunallaaha bi diinikum wallaahu ya'lamu maa fis samaawaati wa maa fil ardhi wallaahu bi kulli syai-in 'aliim





Artinya :





16. Apakah kalian (yang mengada-adakan itu) mau meng-kuliahkan Allah dan Rasul-Nya tentang penataan hidup kalian ?! Padahal Allah dengan pembuktian Al-quran ms Rasul-NYA, yang men-Ilmu-i setiap apa yang diruang angkasa dan setiap apa yang dibumi ini. Dan Allah, dengan pembuktian Al-qur’an ms Rasul-NYA, adalah pemberi ilmu bagi setiap apapun.





16. Katakanlah (kepada mereka): "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."



















Yamunnuuna 'alaika anaslamuuqul laa tamunnuu 'alayya islaamakum balillaahu yamunnu 'alaikum an hadaakum HI iimaani in kuntum shaadiqiin





Artinya :





17. “Mereka , dengan dalih menyerah diri untuk hidup dalam lingkungan penataan Islam, mempunyai cita jahat terhadap al-qur’an ms anda (Muhammad) Maka tegaskan : “ Tidak usahlah kalian dengan dalih menyerah diri untuk hidup dalam lingkungan penataan islam itu, mempunyai cita jahat terhadap al-qur’an ms Rasul-KU ( Muhammad SAW ). Sebaliknya Allah dengan al-qur’an ms Rasul-Nya mengandung cita atas kalian untuk mempedomani hidup kalian guna hidup berpandangan dan bersikap demikian, jikalaulah kalian itu benar-benar mau ber-IMAN “





17. Mereka merasa telah memberi ni`mat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi ni`mat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan ni`mat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar".















Innallaaha ya'lamu ghaibas samaawaati wal ardhi wallaahu bashiirum bi maa ta'maluun





Artinya :





18. “Sebenarnya Allah, seperti halnya Dia memastikan secara ilmiah semesta kehidupan angkasa dan bumi ini, begitu Dia memastikan untuk hidup sekalian manusia, yaitu Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, adalah Pembina pandangan hidup dengan mana kalian melakukan setiap apapun”.





18. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.







Selanjutnya Surat 009 Taubah ayat 97-102 lebih memperjelas lagi maksud-maksud arab jahiliyah yang bermotip jahat terhadap al-Qur’an ms Rasul demikian:



















Al a'raabu asyaddu kufraw wa nifaa-qaw wa ajdaru allaa ya'lamuu huduuda maa anzalallaahu 'alaa rasuulihii wal-laahu 'aliimun hakim





Artinya :





97. “Orang-orang arab (Jahiliyah) adalah kufur-kufur dan munafik-munafik manusia terhadap al-Qur’an ms Rasul yaitu cirri-cirinya bahwa mereka tidak memahami konsep al-Qur’an yang Allah telah menurunkan ms Rasul-NYa. Yaitu Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, adalah Pembina kehidupan ilmi-ah lagi pembentuk kehidupan hukum tiada tanding”.





97. Orang-orang Arab Badwi itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.





















Wa minal a'raabi may yattakhidzu maa yunfiqu maghramaw wa yatarabbashu bikumud dawaa-ira 'alaihim daa-iratus sau-i wallaahu samii'un 'aliim





Artinya :





98. “Yaitu segolongan orang-orang arab (yang dengan dalih menyerah diri untuk hidup dalam penetaan islam), adalah yang memperlakukan apa yang mereka korbankan itu menjadi sebangsa suapan dengan mana mereka menantikan perubahan situasi yang menguntungkan mereka dan atau kehancuran terhadap kehidupan kalian atas pilihan Nur ms Rasul. Sebenarnya atas mereka yang demikian itulah giliran kehidupan jahat saling menghancurkan. Dan Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, adalah Pembina pandangan hidup lagi pembentuk kehidupan ilmi-ah tiada tanding”.





98. Di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

























Wa minal a'raabi may yu'minu billaahi wal yaumil aakhiri wa yattakhidzu maa yunfiqu qurubaatin 'indallaahi wa sha-lawaatir rasuuli alaa innahaa qurbatul





Artinya :





99. “Dan segolongan lagi orang-orang arab adalah yang hidup berpandangan dan bersikap dengan ajaran Allah (al-Qur’an) ms Rasul-Nya dengan mana yakni mencapai tujuan terakahir. Sehingga mereka memperlakukan suatu pendekatan diri kedalam satu kehidupan menurut ajaran Allah, yaitu memenuhi harapan sunnah Rasul-Nya. Ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah satu pengorbanan untuk keperluan hidup mereka sendiri yang Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, kelak akan memasukkan mereka kedalam satu kehidupan saling kasih sayang menurut-Nya. Sesungguhnya Allah, dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, adalah Pembina kehidupan maha revolusioner lagi pemberi kepastian hidup menurut pilihan masing-masing”.





99. Dan di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do`a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.























lahum sa yudkhiluhumullaahu fii rah-matihii innallaaha ghafuurur rahim





Artinya :





100. “Yaitu pendukung-pendukung kehidupan Nur ms Rasul dari sebagian Muhajirin dan sebagian Anshor dan yang mengikuti mereka dengan tujuan ihsan. Allah, atas pilihan Nur ms Rasul-Nya, meridlai menjadi satu kehidupan mereka yaitu mereka menyenangi satu kehidupan menurut demikian. Maka Dia (Allah), dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, menghantar ujud kehidupan mereka yang demikian ini menjadi bagaikan Taman Merindangkan Panen, yang dipermukaan dalamnya itu diairi berbagai jenis batang air yang menyuburkannya, yang abadi didalamnya itu seabadi Imannya. Yang demikian itu (al-Qur’an ms Rasul) adalah Pembina kehidupan menang lagi agung tiada tanding”.





100. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.























Was saabiquunal awwaluuna minal mu-haajiriina wal anshaari wal ladziinat ta-ba'uuhum bi ihsaanir radhiyallaahu 'an-hum wa radhuu 'anhu wa a'adda lahum jannaatin tajrii tahtahal anhaaru khaa-lidiina fiihaa abadan dzaalikal fauzul 'azhiim





Artinya :





101. “Dan segolongan dari orang-orang Arab (Jahiliyah) disekeliling kalian yang hidup Nur ms Rasul adalah munafiq, yaitu bagian dari warga Madinah Munawwarah mereka tetap bersikeras atas pilihan aduk-adukan Nur dz ms syayathin yang kalian tidak mempunyai ilmu tentangnya. Tetapi Kami (Allah), dengan pembuktian al-Qur’an ms Rasul-Nya, mengilmu-i mereka yang kelak mereka yang demikian akan Kami timpa bencana ganda. Akhirnya mereka, dengan aduk-adukan Nur dz ms sy, akan terjerumus kedalam kehidupan bencana yang tiada tanding”.





101. Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.





















wa mim man haulakum minal a'raabi munaafiquuna wa min ahlil madiinati maraduu 'alan nifaaqi laa ta'lamuhum nahnu na'lamuhum sa nu'adzdzibuhum marrataini tsumma yuradduuna ilaa 'adzaabin 'azhiim





Artinya :





102. “Dan lain-lain sebangsanya mereka hidup bergelimang dengan berbagai kesalahan, berlaku aduk-adukan Nur dz as syayathin. Semoga Allah memberikan taubat atas mereka yang demikian. Sesungguhnya Allah, dengan pembuktian al-Qur’an as Rasul-Nya, adalah Pembina kehidupan maha revolusioner lagi pemberi kepastian hidup menurut pilihan masing-masing”.





102. Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar