Kamis, 04 Agustus 2011

TEKHNIK MENGKAJI AL- QURAN ( 2 )

Terima kasih saya sudah diarahkan untuk mendapatkan gagasan Al-Muzammil yang tersajikan secara sistematis. Saya percaya bahwa semua surat Al Quran disajaikan demikian. Apakah sudah ada juga kajian sistematis tentang surat-surat yang lain? termasuk juga keterkaitan antara surat-surat tersebut secara sistematis? menarik juga membaca Al Quran dari mulai Al Fatihah dan seterusnya ketika kita telah mengetahui alur keterkaitan antara ayat dengan ayat, surat dengan surat.

Jawab

Kajian sistematis tentang surat-surat yang lain, belum ada yang sudah selesai dikerjakan. Surat Al-‘Alaq (seperti termuat di blog ini) baru 5 ayat. Surat Al-Baqarah baru dimulai, dan sedang dimuat secara bersambung dalam majalah Kalisa.

Tanya

Pada masa Rasul, Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur sebagai solusi atas problema kehidupan yang dihadapi Rasul saat itu. Kemudian kita dihadapkan pada susunan atau sistematika yang lain. Sepertinya kita diarahkan untuk menghadapi kemelut kehidupan dengan strategi yang tidak persis sama. Kalau tidak salah, ada yang berkata bahwa setiap generasi akan menghadapi zaman yang tidak sama dengan generasi sebelumnya sehingga generasi masa depan harus dididik sesuai dengan zaman yang akan dilaluinya. Apakah Rasulullah, sebagai seorang yang visioner, bermaksud demikian dengan menyuruh menyusun ayat/surat dengan susunan berbeda dengan urutan turunnya?

Jawab



Pertanyaan anda berkenaan dengan dua hal pokok, yaitu:
Cara penurunan (pengajaran) Al-Qurãn, dan
Kodifikasi Al-Qurãn

Secara umum (keseluruhan), bila ditinjau dari kacamata da’wah, kedua hal itu sebenarnya merupakan pilar dari strategi dan taktik da’wah.

Pada setiap butir dari kedua hal pokok tersebut juga masing-masing terdapat dua pelajaran, khususnya yang boleh dikatakan sebagai strategi da’wah, yaitu pelajaran yang tersurat (tertulis; kasat mata; teramati dengan cukup mudah oleh banyak orang), dan pelajaran yang tersirat (tidak tertulis; tidak kasat mata; hanya tertangkap oleh pengamatan sedikit orang).

Butir pertama, cara pengajaran Al-Qurãn yang dilakukan Allah terhadap Nabi Muhammad, mengandung pelajaran bahwa da’wah itu harus dilakukan secara pragmatis, yaitu memperhatikan situasi(keadaan yang berkaitan dengan waktu/zaman) dan kondisi (keadaan yang berkaitan dengan tempat). Dengan kata lain, da’wah itu harus memperhatikan keadaan ruang dan waktu. Tentu yang dimaksud adalah ruang dan waktu yang di dalamnya terdapat kehidupan manusia dengan segala permasalahannya, bukan ruang dan waktu yang hampa.

Da’wah dalam arti sempit

Bila da’wah dipahami secara sempit sebagai “berbicara” (da’wah lisan atau tulisan), misalnya, maka berlakulah apa yang dikatakan Rasulullah dalam sebuah hadis: Kallimû-nnãsa ‘ala qadri ‘uqulihim. Sabda Rasulullah ini mengandung pengertian agar para da’i melisankan ajaran Allah (Al-Qurãn) kepada manusia – sasaran da’wah – dengan mempertimbangkan daya nalar atau alam pikiran mereka.

Alam pikiran manusia tidak pernah lepas dari pengaruh pragmatis, yaitu kenyataan yang mereka temui, rasakan, dan bahkan mereka butuhkan, sehingga mengikat mereka sesuai dengan situasi dan kondisi mereka. Sebut saja misalnya televisi, internet, ponsel, dan lain sebagainya, yang sudah menjadi kebutuhan manusia dalam situasi dan kondisi sekarang. Di situlah para da’i dituntut untuk ‘berbicara’ dengan ‘bahasa’ (= pendekatan) yang mereka pahami.

Kebalikan dari pragmatis di sini adalah teoritis, normatif, dan bahkan dogmatis. Sebuah model pendekatan yang justru dilakukan oleh kebanyakan da’i. Mereka mengajarkan teori-teori, norma-norma, dogma-dogma, yang tidak nyambung dengan alam pikiran (logika) manusia sekarang. Ini hanya salah satu contoh yang berkaitan dengan da’wah secara lisan; yakni da’wah yang hanya bermain di tataran verbal (omongan), yang tidak menjawab kebutuhan pragmatis, yaitu penyelesaian masalah dalam situasi dan kondisi yang dihadapi sasaran da’wah secara umum (suatu bangsa, misalnya).

Kekeliruan lain dari para da’i adalah gerakan da’wah mereka yang akhirat oriented; yaitu menyampaikan bahan-bahan da’wah yang lebih cenderung memberikan kesan bahwa agama (dalam hal ini Islam) adalah untuk kebutuhan hidup di alam nanti (akhirat). Karena itu, mereka sangat sering atau hampir selalu membahas soal kesenangan sorga dan siksa neraka di alam setelah kita mati.

Selain itu, mereka juga selalu mengajarkan bahwa agama adalah urusan hati, bukan urusan akal atau otak. Dengan demikian, secara tidak langsung, mereka seperti melarang sasaran da’wah untuk menerima ajaran agama secara cerdas. Ini sangat bertolak belakang dengan Al-Qurãn (sebagai sebuah ilmu).

Da’wah dalam arti luas

Da’wah dalam arti luas bukanlah hanya penyampaian ajaran secara lisan (dan tulisan), yang dilakukan orang per orang (individual) secara parsial (terpisah-pisah), tapi suatu gerakan (harakah) yang dilakukan oleh sebuah “organisasi da’wah” yang inklusif (menyeluruh); yaitu mencakup pelayanan, pemberian fasilitas, dan penyediaan berbagai bahan yang dibutuhkan untuk mengajak orang mengubah orientasi hidupnya.

Kembali ke soal pengajaran Al-Qurãn yang dilakukan Allah terhadap Nabi Muhammad. Pengajaran itu dilakukan secara pragmatis (sesuai situasi dan kondisi), untuk memenuhi kebutuhan Rasulullah dan umatnya pada waktu itu. Hal yang ‘kasat mata’ (bagi kita sekarang) adalah turunnya Al-Qurãn secara cicilan (sedikit demi sedidikit; ayat demi ayat) dan acak (misalnya ayat-ayat dalam wahyu pertama nanti dihimpun dalam surat Al-‘Alaq, ayat-ayat dalam wahyu kedua dihimpun dalam surat yang lain, dan begitu seterusnya).

Ada ayat yang diturunkan berkaitan dengan sikap Abu Lahab ketika Rasulullah berusaha menyampaikan da’wah di hadapan masyarakat umum pertama kali. Ada yang diturunkan untuk menjawab pertanyaan orang-orang Yahudi. Ada ayat-ayat yang menyuruh Rasulullah membandingkan Al-Qurãn dengan karya-karya tulis mereka, dan lain-lain; yang secara keseluruhan bisa kita baca dalam buku-buku sejarah hidup Rasulullah.

Ada ayat-ayat yang secara gamblang, blak-blakan, berkaitan dengan suatu kasus. Ada ayat-ayat yang berisi gambaran peristiwa alam, fragmen (pecahan, potongan) kisah para nabi terdahulu, dan lain-lain. Bahkan ada ayat-ayat, kisah sejumlah nabi yang diturunkan berulang-ulang, secara sama persis atau dengan berbagai variasi. Ada penyebutan nama nabi yang paling banyak namun terpencar-pencar di berbagai surat (Musa), ada kisah nabi yang dituturkan secara lengkap dalam satu surat (Yusuf).

Semua disampaikan (diajarkan) sesuai situasi dan kondisi perjalanan da’wah, serta situasi dan kondisi psikologis Rasulullah dan para pengikutnya sendiri. Pendeknya, pada tahap awal itu, Al-Qurãn diajarkan benar-benar sebagai pedoman hidup dan da’wah yang real dan praktis (= pragmatis).

Dengan kata lain, periode awal pengajaran Al-Qurãn itu adalah periode formatif (formative). Yaitu periode pembentukan sosok Nabi Muhammad dan umat awalnya, berikut tatanan masyarakatnya, sebagai uswah hasanah (contoh terbaik) bagi umat-umat beliau selanjutnya, dalam memunculkan Al-Qurãn sebagai konsep hidup yang unggul, yang terbukti mampu melahirkan manusia-manusia (umat), dan tatanan masyarakat yang unggul. Inilah inti dari gerakan da’wah Al-Qurãn.

Kodifikasi Al-Qurãn

Kodifikasi (codification) adalah proses penghimpunan undang-undang atau peraturan ke dalam urutan yang sistematis. Bila pengertian ini diterapkan kepada mushhaf Al-Qurãn yang kita dapati sekarang, pastilah banyak orang menganggapnya tidak cocok. Bagi mereka isi mushhaf Al-Qurãn itu bukanlah terdiri dari bahan-bahan yang terkodifikasi. Sebaliknya malah kacau alias berantakan.

Hal itu sudah dijelaskan serba sedikit dalam tulisan terdahulu. Intinya kodifikasi Al-Qurãn memang berbeda dengan kodifikasi buku-buku lain, termasuk buku-buku hukum.

Kembali pada persoalan ini:

Tanya

Pada masa Rasul, Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur sebagai solusi atas problema kehidupan yang dihadapi Rasul saat itu.

Jawab

Ya.

Tanya

Kemudian kita dihadapkan pada susunan atau sistematika yang lain.

Jawab

Ya. Kita dihadapkan pada susunan atau sistematika Al-Qurãn yang berbeda dari cara penurunannya.

Tanya

Sepertinya kita diarahkan untuk menghadapi kemelut kehidupan dengan strategi yang tidak persis sama.

Jawab

Ya. Sebutlah yang dialami Rasulullah dan umat awal beliau sebagai sebuah contoh kasus, dan kita menghadapi kasus yang lain. Orang sering mengatakan bahwa antara Rasulullah dengan kita, dalam da’wah Al-Qurãn, ada perbedaan teknis. Mereka benar. Tapi ketika bicara tentang kebalikan dari teknis itu, yaitu soal prinsipnya, biasnya mereka ngawur.

Ada hal-hal prinsip (asasi) yang biasanya diabaikan para da’i (yang tidak terorganisir itu). Pertama, mereka tidak mau tahu bahwa da’wah Al-Qurãn harus dilakukan dengan sebuah ‘mesin da’wah’, yang komponennya adalah variasi umat yang menyatu dalam jama’ah. Tegasnya, yang mengaku umat Islam itu harus menyatu menjadi sebuah jama’ah. Bila tidak, jangan harap da’wah akan mencapai hasil seperti yang dicapai Rasulullah.

Kedua, karena umat tidak merupakan jama’ah, otomatis umat tidak bisa menjadi mesin da’wah. Artinya, segala potensi umat, dengan berbagai variasi dan spesialisasinya, tidak bisa dikerahkan secara serempak untuk mendukung da’wah.

Ketiga, sebagai akibat lanjutan dari potensi dan variasi umat yang tidak terhimpun, kegiatan da’wah tidak bisa berjalan dengan baik karena ketiadaan dana. (Jangan lupa bahwa umat yang banyak itu, khususnya di Indonesia, adalah juga sumber dana yang sangat melimpah). Al-hasil, para da’i pun banyak yang menempel orang kaya, pejabat, selebritis, untuk mendapatkan uang; yang mereka gunakan untuk menjalankan da’wah versi mereka sendiri-sendiri. Ujung-ujungnya, muncul para da’i kondang secara musiman, sama seperti tokoh-tokoh selebritis. Dan bila da’i sudah jadi selebritis, jadilah pula mereka komoditi hiburan yang dimanfaatkan media massa, terutama televisi, untuk menjaring iklan. Atau mereka sendiri, misalnya Jefry Al-Bukhory, Yusuf Mansur, dan lain-lain, mendirikan usaha dengan menjual brand mereka sebagai da’i kondang.

Dan seterusnya, masih terlalu banyak untuk ditulis semua.

Tanya

Kalau tidak salah, ada yang berkata bahwa setiap generasi akan menghadapi zaman yang tidak sama dengan generasi sebelumnya sehingga generasi masa depan harus dididik sesuai dengan zaman yang akan dilaluinya.

Jawab

Orang yang mengatakan demikian itu adalah Rasulullah. Itu hadis rasulullah.

Maksud beliau, anak-anak (generasi) kita harus dimatangkan dalam penguasaan ilmu Allah, sehingga kesadaran mereka, cara mereka berpikir, cara menilai, cara memandang segala bentuk kehidupan, dilakukan dengan cara yang sama. Yaitu cara yang beliau ajarkan. Cara yang beliau terima dari Allah.

Tanya

Apakah Rasulullah, sebagai seorang yang visioner, bermaksud demikian dengan menyuruh menyusun ayat/surat dengan susunan berbeda dengan urutan turunnya?

Jawab

Bukan Rasulullah yang visioner. Rasulullah tidak punya visi yang benar tentang kehidupan. Karena itulah beliau pernah mengasingkan diri ke dalam goa selama bertahun-tahun. Kemudian beliau menerima wahyu. Selanjutnya wahyu itulah yang menjadi visi beliau. Karena wahyulah beliau menjadi manusia yang visioner. Begitu juga seharusnya orang-orang yang mengaku mu’min.

Tentang penyusunan (kodifikasi) Al-Qurãn ke dalam bentuk mushhaf, sejak awal anda sudah mengatakan bahwa itu dilakukan sesuai taufik Allah, bukan ide Rasulullah.

Perlu saya tegaskan lagi bahwa (1) Al-Qurãn diajarkan secara pragmatis, kemudian (2) ditulis secara ilmiah (sesuati sistematika ilmu).

Tujuan penulisan yang sesuai sistematika ilmu itu adalah supaya Al-Qurãn bisa dipelajari secara ilmiah pula. Yaitu sebagai sebuah konsep hidup, sebuah teori, yang sosok ilmiahnya jelas. Ada pendahuluan, ada uraian, ada kesimpulan.

Dengan demikian, ia bisa menjadi pedoman hidup bagi manusia (yang semakin lama semakin cenderung berpikir ilmiah) di segala tempat (kondisi) dan zaman (situasi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar